Bolehkah Kondom Rasa Digunakan Saat Bercinta? Berikut Penjelasannya

Guys, kalian pasti tahu kan apa itu kondom? Ya, kondom adalah sejenis alat kontrasepsi yang biasa digunakan oleh pria untuk berhubungan intim dengan pasangan. Bentuknya yang elastis menyerupai mr P ini sangat membantu para pria yang masih belum ingin memiliki momongan. Kondom bisa menjadi salah satu solusi ampuh untuk mencegah kehamilan dan penularan penyakit kelamin.

Ada banyak ragam bentuk kondom yang dijual di pasaran yang bisa dipilh sesuai selera. Selain bentuk, ada juga kondom yang memiliki rasa buah seperti, pisang, anggur,strawberry dan masih banyak lagi.

Yang jadi pertanyaannya sekarang, dari mana rasa kondom ini dibuat? Lalu, apa seh bahan dasar alat kontrasepsi tesebut serta amankan ketika sedang berhubungan seks menggunakan kondom rasa? Tak perlu panjang lebar lagi, baik langsung saja kita simak ulasannya di bawah ini ya.

Asal Kata Nama Kondom

Ada banyak teori yang membahas mengenai asal kata kondom ini. Menurut William E. Kruck, asal kondom ini tidak diketahui secara pasti dari mana. Namun, salah satu pendapat mengatakan kalau sala kata kondom ini berasal dari bahasa Latin yaitu “Condom” dan “Condamania”.

Condom sendiri memiliki arti sebagai penampung dan Condamania artinya adalah rumah. Ada pula yang berspekulasi kalau kondom itu berasal dari Italia yaitu “Guantone” diambila dari kata “Guanto” yang artinya adalah sarung.

Di Inggris beda lagi teorinya. Menurut cerita rakyat sana, kata kondom ditarik dari nama dokter Condom atau Quondam yang membuat benda itu untuk Raja Charles II, tapi tak ada bukti ilmiahnya. Satu teori menyebutkan ada opsir tentara Inggris bernama Cundum yang mempopulerkan kondom antara tahun 1680 sampai 1717. Macam-macam saja ya guys! Makanya daripada bingung mending diputuskan bahwa asal katanya tidak diketahui, bereslah perkara.

Sekarang kita lanjut ke sejarahnya. Sebuah lukisan Mesir Kuno yang diperkirakan usianya 3.000 tahun menggambarkan tentang sarung penis dekoratif yang sedang dipakai kaum pria. Belum diketahui apakah orang Mesir memakai kondom tersebut untuk tujuan ritual atau kontrasepsi, tapi tampaknya benda itu lebih condong digunakan sebagai pelindung terhadap penyakit dan serangga.

Legenda Yunani tentang Minos yang dikisahkan oleh Antonius Liberalis pada tahun 150 menggambarkan pemakaian kandung kemih kambing sebagai tindakan protektif ketika sanggama, tapi tujuan praktek semacam itu tidak betul-betul jelas. Di Jepang, konon sarung penis digunakan pada awal 1500-an.

Kondom pertama ditemukan pada tahun 1564 ketika seorang dokter bangsa Italia bernama Gabrielo Fallopia (ya, salah satu saluran reproduksi wanita dinamakan berdasarkan nama si dokter ini) merekomendasikan penggunaan sarung linen yang berfungsi sebagai pelindung terhadap penyakit menular seksual.

Caranya, sarung linen tersebut dibasahi dengan larutan kimia tertentu dan dikeringkan sebelum dipakai. Si dokter ini mengaku melakukan eksperimen pada 1.100 subjek dan melaporkan bahwa sarung tersebut melindungi pemakainya dari sifilis. Sementara, kondom paling tua yang ditemukan berasal dari Kastil Dudley di Inggris pada tahun 1640, wah awet betul ya. Kondom tersebut dibikin dari usus hewan dan dipercaya digunakan sebagai pelindung dari penularan penyakit menular seksual.

Pada abad ke-19 di Jepang sudah tersedia kondom dari kulit, selongsong kura-kura dan tanduk. Di Cina disebutkan bahwa benda sejenis ini juga ada tapi bahannya dari kertas sutra berminyak, apa tidak menimbulkan suara gemersik ya?

Sampai pertengahan abad ke-18 kondom dibikin dari usus hewan. Kondom karet baru diproduksi pada tahun 1855 setelah Charles Goodyear menciptakan vulkanisasi karet. Tentu saja wujudnya belum seperti sekarang ini. Kondom karet generasi awal itu dijahit pada sisi-sisinya dan tebalnya mencapai 1 sampai 2 mm.

Dan bisa dipakai berulang kali asal jangan lupa dicuci. Baru pada 1912 seorang Jerman bernama Julius Fromm mengembangkan teknik produksi kondom yang baru, yaitu dengan mencelupkan adonan kaca ke dalam larutan karet mentah sehingga kondom jadi lebih tipis dan tanpa jahitan. Sejak masa 1930-an kondom telah mengalami perkembangan menjadi kondom sekali pakai yang tipis dan murah seperti sekarang.

Université Laval di Quebec, Kanada mengembangkan kondom tak kasat mata. Bentuknya berupa jel yang dioleskan di penis dan mengeras (jelnya, bukan penisnya) ketika terjadi peningkatan suhu saat penetrasi anal atau vaginal. Jel tersebut luruh setelah beberapa jam, tapi jel ini masih dalam tahap uji coba klinis.

Berita di teve Swiss tanggal 29 November 2006 menyebutkan ilmuwan Jerman, Jan Vinzenz Krause dari Institut untuk Konsultasi Kondom tengah mengembangkan kondom semprot yang kering dalam lima detik saja dan kini sedang tes pasar. Keuntungan dari dua model pengembangan kondom terbaru tersebut adalah pasti pas untuk penis ukuran dan model apapun. Kalau produk-produk tersebut dipasarkan, selamat tinggal kasus kondom kedodoran atau robek lantaran sempit.

Bahan Dasar Kondom

Sebagian besar produsen kondom hanya menginformasikan bahwa bahan yang digunakan untuk produk mereka terbuat dari lateks, poliuretan dan kulit domba. Beberapa merek bahkan berani menyertakan apakah produknya mengandung spermisida atau tidak.

Sayangnya, hampir semua merek kondom tidak menyertakan detail bahan kimia yang dipakai pada kemasannya. Merek-merek kondom tersebut hanya menginformasikan bahwa produknya mengandung pelumas, tapi tidak ada penjelasan spesifik apakah produknya tersebut mengandung parabens, gliserin atau benzocaine.

Informasi mengenai bahan dasar pembuatan kondom ini sangat penting, mengingat banyak orang yang memiliki alergi terhadap lateks, paraben atau gliserin. Penderita alergi yang menggunakan kondom berbahan dasar tersebut dapat mengalami reaksi alergi lokal, seperti iritasi pada vagina. Peradangan ini dapat meningkatkan risiko untuk memperoleh penyakit HIV atau penyakit menular seksual lainnya.

Pasti anda belum tahu kan kalau ada beberapa perusahaan yang memproduksi kondon dari kasein, sejenis protein yang terdapat di dalam susu. Bahkan, perusahaan tersebut tidak segan-segan untuk mencampurkan susu bubuk dalam pembuatan kondom.

Hal ini memang tidaklah berbahaya, namun ini cukup sangat menggangu bagi pengguna kondom yang mungkin vegetarian. Salah satu cara untuk memilih kondom yang baik dan tidak mengandung bahan-bahan hewani atau tidak, pilihlah kondom dengan sertifikat Vegen Approved.

Selain mereka mencampurkan susu bubuk dalam pembuatannya, beberapa jenis kondom bisa juga mengandung Spermisida Nonoxynol-9 yang dapat menyebabkan masalah pada beberapa penggunanya. Pada dasarnya, bahan yang digunakan ini adalah yang biasa dipakai dalam pembuatan deterjen yang dapat membunuh sperma dan organisme penyebab penyakit menular seksual Premenstrual Syndrome (PMS) pada wanita.

Ya, kandungan nonoxynol-9 ini cukup efektif untuk mencegah kehamilan dan penyakit menular seksual, tetapi penggunaan spermisida dalam jumlah banyak dan intensitas yang tinggi dapat menyebabkan peradangan pada leher rahim atau vagina. Ketika sel-sel di sekitar vagina mengalami kerusakan, maka anda lebih rentang mengalami infeksi saluran kemih serta PMS. Bahkan, pasangan anda juga rentan terkena PMS.

Selain itu, ada pula bahan lain yang biasa terdapat pada kondom pria, yaitu gliserin. Dimana ini merupakan pemanis yang sering ditambahkan ke pelumas. Gliserin diklasifikasikan sebagai gula alkohol. Beberapa dokter menuturkan bahwa penggunaan kondom yang mengandung gliserin dapat meningkatkan risiko infeksi jamur. Selain itu, gliserin yang berkontak langsung dengan vagina dapat menyebabkan ketidakseimbangan pH vagina, sehingga risiko pertumbuhan jamur semakin besar.

Kondom Rasa Terbuat Dari Apa?

Kondom adalah alat kontrasepsi yang terbuat dari lapisan bahan sangat tipis untuk mencegah air mani pria untuk masuk ke dalam vagina. Jika digunakan secara tepat dan hati-hati, keampuhan kondom untuk mencegah kehamilan dan penularan penyakit mencapai 98 persen.

Ada banyak jenis kondom yang dijual di pasaran. Mulai dari kondom berbahan dasar lateks (getah karet), kulit domba (lambskin), poliuretan (campuran antara karet dan plastik) dan polyisoprene (karet sintetis). Varian kondom standar ini tidak memiliki rasa dan berbau layaknya karet atau plastik pada umumnya.

Untuk menambah sensasi dan kenikmatan ketika melakukan seks oral, banyak produsen yang merilis varian kondom rasa dengan melapisi sisi terluar kondom dengan pelumas yang mengandung macam-macam perisai buatan, yang tentu aman untuk dikonsumsi. Pelumas berperisa ini juga dapat ditambahkan pada jenis kondom lainnya, seperti kondom yang bertekstur atau yang memiliki sensasi tambahan, misalnya dingin atau menggelitik.

Dihimpun dari berbagai sumber, varian rasa yang paling digemari adalah stroberi, cokelat, pisang dan jeruk. Beberapa produsen kondom rasa bahkan mengeluarkan kondom dengan rasa kola, ganja, durian, terong, hingga bacon atau daging babi.

Apakah Boleh Seks Pakai Kondom Rasa?

Meskipun aman digunakan untuk seks oral, namun tidak semua kondom rasa aman untuk digunakan pada aktivitas seks lainnya. Ada beberapa produk kondom rasa yang dapat digunakan untuk seks penetrasi vaginal, namun ada yang tidak. Sebaiknya baca dulu petunjuk pemakaian yang tercantum pada kemasan kondom tersebut.

Macam-macam rasa kondom ini berasal dari gula buatan gliserin yang terkandung dalam pelumasnya. Gliserin dalam vagina dapat merusak keseimbangan pH vagina, sehingga meningkatkan risiko wanita terkena infeksi jamur vagina dan infeksi saluran kencing jika menggunakan kondom rasa untuk penetrasi vagina.

Bagaimana cara memilih kondom yang aman?

Pemilihan kondom terbaik sebenarnya tergantung dari apa kebutuhan anda. Kondom berbahan lateks tanpa rasa adalah jenis paling efektif untuk mencegah kehamilan dan penyakit kelamin dari setiap jenis aktivitas seksual. Namun kondom ini hanya bisa digunakan dengan pelumas berbahan dasar air.

Lubrikan berbahan dasar minyak atau petroleum jelly dapat menyebabkan bahan karetnya menipis, aus dan sobek. Pada orang-orang yang alergi lateks, penggunaan kondom jenis ini bisa menyebabkan gatal, sensasi terbakar atau timbul ruam kemerahan di kulit sekitar kelamin.

Untuk mereka yang memiliki alergi lateks, direkomendasikan untuk menggunakan kondom poliuretan yang terbuat dari plastik sintetis, tidak berwarna dan tidak berbau, lebih tipis dan kuat, namun kurang elastis dibandingkan bahan lateks. Kondom poliuretan dapat digunakan dengan produk lubrikan berbahan dasar air maupun minyak.

Bahan poliuretan juga menghasilkan panas yang bisa meningkatkan sensitivitas selama berhubungan seks. Poliuretan tidak berpori, sehingga memberikan perlindungan yang dipercaya lebih baik bagi pencegahan kehamilan dan penyakit kelamin menular.

Jadi, kondom yang memiliki rasa ada yang baik dan ada juga yang buruk bagi kesehatan miss V pasangan anda. Semoga dengan artikel ini anda jadi lebih berhati-hati dalam penggunaan kondom rasa tersebut. Baca dulu aturan pakai sebelum anda menggunakannya ya, terima kasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *