Semakin Canggih, Teknologi Hebat Ini Diberi Nama Sixth Sense

Hallo guys, kalian tau dong teknologi yang dipakai Tony Stark dalam film Iron Man yang terlihat seperti kemodernan suatu alat teknologi. Dimana ia menggunakan alat sensor yang seperti touch screen dan selalu digunakan untuk mencari informasi.

Tunggu dulu, kali ini kami bukan membahas tentang film Iron Man melainkan alat yang biasa ia gunakan dalam film tersebut yaitu sebuah alat yang sama seperti teknologi canggih yang biasa digunakan Tony tersebut.

Yup, teknologi terbaru ini dinamai sixth Sense Technology atau Teknologi Indera Keenam. Penemunya sendiri adalah seorang jenius asal India yang juga seorang insinyur terkenal lulusan MIT (Massachusetts Institute of Technology) bernama Pranav Mistry.

Pranav dengan jenius telah menciptakan alat yang memadukan gerak tubuh (gesture) dengan dunia komputasi digital. Dengan teknologi ini kita bisa melakukan apa pun tanpa harus mengunakan alat yang berbeda dan tanpa harus berada di depan komputer.

Ide awal penemuan teknologi ini adalah bagaimana kita tetap bisa melakukan aktivitas sehari-hari dengan gampang tanpa harus membawa banyak peralatan digital seperti kamera, ponsel, ataupun laptop, sekaligus dapat terhubung secara online terus menerus untuk menerima dan mencari informasi.

Seperti yang didemokan oleh Pranav, dengan teknologi tersebut dia mampu menelpon hanya dengan telapak tangan tanpa ponsel, memotret hanya dengan ujung jari tanpa kamera, melihat resensi buku, melihat delay pesawat pada ticket, membuka akses internet atau Google pada selembar kertas, membaca koran dengan animasi online dan bahkan transfer data atau teks hanya dengan menginput dan memasukkannya ke monitor komputer.

Inspirasi Dibalik Teknologi Sixth Sense

Sulit dipercaya memang bahwa hingga saat ini, surat yang ditulis oleh Gordon Moore pada April 1965 ini menjadi inspirasi bagi industri semikonduktor dalam memproduksi transistor menjadi chip (IC).

Dalam analisisnya, Moore menyatakan bahwa trend kemajuan teknologi industri perangkap keras (hardware) khususnya transistor meningkat dua kali dalam kurun 2 tahun. Bahkan dalam beberapa periode, trend peningkatan teknologi terjadi dalam kurun 18 bulan (1,5 tahun).

Peningkatan teknologi yang dimaksud adalah kapasitas transistor per area meningkat dua kali dengan harga produksi yang sama setiap 2 tahun atau 1,5 tahun.

Artinya, bila diawal tahun 2008 kapasitas USB flash disk rata-rata 2 GB, maka diakhir 2009 kita akan memperoleh USB flash disk 4 GB pada tahun 2009 dengan harga yang sama dengan 2 GB pada tahun 2008.

Kemampuan memperkecil ukuran transistor dalam chip berdampak pada ukuran dan kecepatan hardware. Pada tahun 1995, sebuah chip mikroprosesor hanya memiliki 9.3 juta transistor.

Enam tahun kemudian tepatnya tahun 1999, chip mikroprosesor sudah memiliki lebih dari 40 juta transistor. Dan berdasarkan hukum Moore, maka pada tahun 2015 jumlah transistor mampu menempus 10 juta per chip mikroprosesor. Kecepatan frekuensi kerja transistor mungkin dapat mencapai 200-400 GHz.

Ketika perkembangan teknologi transistor semakin maju, maka ukuran perangkat-perangkat elektonik digital akan semakin kecil yan diiringin dengan perfomance yang tinggi.

Bila ENIAC, komputer pertama yang hanya bisa operasi aritmatika denganukuran sebesar ruangan, maka dengan smartphone seukuran 1/2 telapak tangan, kita dapat mengerjakan operasi yang jauh lebih cepat dan kompleks.

Dan tentu, perkembangan teknologi yang begitu pesat diikuti dengan aplikasi yang lebih dahsyat lagi. Salah satunya adalah teknologi sixth sense (indera ke-6) ini.

Teknologi Sixth Sense

Sepintas teknologi sixth sense ini tampak seperti mengandung hal-hal mistis. Dengan teknologi ini, kita bisa tahu apa saja, informasi apapun (kecuali rahasia negara dan private) di dunia ini tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Melalui teknologi ini, kita yang berada di Batam serasa berpindah dari Bandung, lalu Bali dan kemudian Beijing atau New Delhi dalam hitungan menit.

Melalui teknologi ini pula, kita tidak perlu membawa uang tunai atau membawa perangkat komunikasi ukuran besar (dibanding saat ini). Kita tidak perlu bertanya jalan atau informasi kepada orang lain, karena semua informasi dapat kita akses melalui sistem jaringan global.

Kita tidak perlu lagi membawa kamera untuk memotret, namun cukup dengan gerakan tangan tertentu, kita sudah bisa memoto apapun lalu menyimpannya di database kita. Adapun beberapa fitur yang tersedia adalah sebagai berikut:

Kamera

Webcam menangkap obyek di depan dan melakukan tracking terhadap gerakan tangan user. Data dikirimkan ke smart phone.

Tanda Jari Berwarna

Pada jari terdapat tanda berwarna merah, kuning, hijau dan biru yang membantu kamera menangkap gerakan tangan. Namun, pada perkembangan teknologi ini Pranav Mistry telah menciptakan algoritma pengenalan gerak tubuh sehingga kelak tidak lagi diperlukan tanda berwarna pada jari tersebut.

Proyektor

Sebuah proyektor yang menggunakan LED (light emiting diode) menampilkan data yang dikirim dari smart phone ke sembarang permukaan di posisi depan user. Bisa tembok, kertas, tangan atau orang. Saat ini Pranav sedang merancang membuat proyektor laser agar ketajamannya lebih tinggi.

Smart Phone

Sebuah smart phone yang terkoneksi ke Web akan memproses data video dengan menggunakan algoritma pencitraan untuk mengidentifikasi obyek. Sebuah software khusus lain melakukan searching di Web untuk “menterjemahkan” gerakan tangan.

Teknologi sixth sense merupakan teknologi yang menggunakan gerak tangan dan jari sebagai input dalam mengakses dan berinteraksi dengan data informasi global.

Data informasi ini sebelumnya telah tersimpan secara partial untuk setiap objek fisik yang ada di dunia ini. Jauh sebelum teknologi sixth sense ini, input data harus melalui sebuah alat perantara seperti mouse, keyboard, keypad atau informasi optik.

Lalu, beberapa tahun silam berkembang lagi teknologi touch screen. Jadi, jika boleh disimpulkan, teknologi sixth sense merupakan lompatan dari teknologi touch screen yang baru booming 3 tahun silam.

Dengan kapasitas chip yang dapat menampung banyak transistor diringi kecepatan pemrosesan data yang tinggi, maka teknologi sixth sense akan membuat kita semakin mudah mengarungi dunia tanpa batas.

Melalui integrasi sixth sense ke data atau informasi global, maka akses internet beserta aplikasinya menjadi kebutuhan utama. Tentu saja, dengan tingkat kenyamanan yang begitu tinggi terhadap teknologi ini, maka ketergantungan data informasi akan semakin besar.

Ide Sixth Sense

Saat kita lahir, kita sudah langsung memiliki indera yang merupakan bagian tubuh yang paling vital dalam berinteraksi dengan dunia atau lingkungan di sekitar kita. Ketika seseorang menemukan sesuatu atau seseorang, maka kita akan menggunakan panca indera kita untk menerima informasi dari objek tersebut, lalu diproses oleh otak.

Setelah diproses dengan pertimbangan memori sebelumnya, maka kita memutuskan tindakan selanjutnya berdasarkan pengolahan informasi yang kita terima seperti suara, gambar, bau, rasa hingga sentuhan.

Dari keputusan yang telah diambil, maka otak akan memerintahkan tubuh untuk bertindak atau melakukan tindakan yang sesuai dengan keputusan yang telah kita buat.

Keputusan yang kita ambil bisa benar atau bisa juga salah tergantung pada dua faktor yakni si objek dan data referensi (memori, pandangan, sikap, doktrin dan iman).

Selain dua faktor utama tersebut, terdapat pula faktor kebiasaan (temporary item atau memory) yang sangat mempengaruhi keputusan yang akan kita buat.

Namun, pada pembahasan ini, saya hanya akan membahas dua faktor utama yakni objek dan data. Bila salah satu diantara dua faktor ini tidak benar, maka keputusan yang kita buat sangat mungkin salah.

Berdasarkan prinsip sistem komunikasi indera pada manusia ini, maka dibuatlah rancangan sistem kerja digital hardware yang serupa. Aplikasi dari sistem ini pertama kali digunakan secara luas pada sistem internet yang menghimpun data, informasi dan pengetahuan manusia tentang apapun.

Data dan informasi ini dapat diakses secara online kapanpun. Sebuah peralatan seperti komputer, laptop, PDA, ponsel dapat digunakan untuk memperoleh data informasi ini.

Namun, penggunaan peralatan ini masih terbatas pada manusia-mesin. Tidak ada hubungan interaksi secara langsung data dan informasi terhadap respons indera kita kecuali jari-jari tangan yang mengetik. Output dari hasil ketikan akan muncul di layar yang mati (tidak interaktif).

Melihat ada gap antara manusia dan dunia digital informasi, maka manusia cerdas dari India, Pranav Mistry merancang sekaligus membuat peralatan dengan menggunakan teknologi yang disebut sixth sense ini. Teknologi yang menghubungkan manusia dangan dunia informasi data secara erat dan mesra.

Itulah alasan kenapa alat disebut sixth-sense. Melalui teknologi ini, maka kita seolah-olah berinteraksi, berbicara, bercanda gurau dengan makhluk dunia baru yakni informasi data digital.

Sixth sense menjembatani informasi digital yang tidak ada menjadi ada dan menfasilitasi interaksi langsung kita dengan informasi dan data melalui gerakan tangan yang alami (hand gestures).

Cara Kerja Sixth Sense

Perangkat dari teknologi sixth sense terdiri dari proyektor mini, cermin dan kamera serta marker (penanda) berwarna seperti yang sudah dijelaskan tadi.

Perangkat ini dapat dikalungkan. Baik proyektor maupun kamera yang dihubungkan dengan laptop atau PDA mini. Proyektor akan menembak ke permukaan dan objek fisik untuk kemudian oleh kamera mengenali serta mengamati gerakan tangan dan obyek fisik.

Dengan teknik simple computer-vision, data informasi pergerakan dan formula marker akan memproses data video stream yang diambil oleh kamera. Sementara, kamera akan terus mengikuti jejak pergerakan marker (visual tracking fiducials) yang dipasang pada ujung 4 jari tangan kita.

Gerakan jari tangan dengan marker warna dan formulasi atau susunan tersebut lalu dibandingkan dengan informasi data yang tersimpan melalui simple computer vision techniques dan kemudian rangkain informasi yang diolah akan menjadi sumber input bagi laptop atau PDA mini untuk mengambil kesimpulan.

Kesimpulan ini lalu diproses dan outputnya akan ditampilkan melalui jendela proyektor mini. Sampai saat ini, perangkat teknologi sixth sense baru dapat digunakan untuk aplikasi peta sixth-sense, pengambaran dan interaksi pada objek tertentu seperti buku, koran atau dinding tertentu. Silahkan simak video berikut, yang mungkin dapat membuat anda lebih kagum.

Dibidang peta, kita dapat menge-zoom-in dan zoom out hanya dengan gerakan tangan pada peta digital tersebut. Dari gerakan 4 jari tangan yang bermarker tersebut, maka kamera akan mengirimin informasi dan memerintahkan komputer mengeluarkan output melalui proyektor mini.

Begitu juga halnya dalam aplikasi gambar digital. Aplikasi lain adalah kemampuan memberi informasi lebih pada suatu objek yang sedang kita amati. Contohnya seperti pada gambar isi koran yang dapat memunculkan video yang berkaitan dengan isi koran tersebut.

Dan terakhir adalah ketika tangan membuat lingkarnan pada pergelangan tangan, maka perangkat ini akan menampilan jam analog ilusi pada pergelangan tangan.

Menurut Patty Maes, sang dosen Pranav mengatakan bahwa perangkat teknologi ini masih berupa prototype dan biaya pembuatannya tidak lebih dari US$350 atau setara dengan Rp 3,5 juta. Jika rencana produksi secara massal terwujud, hampir pasti harganya jauh lebih murah dengan disain yang lebih simpel dan futuristik.

Bagaimana guys, canggih kan menurut kalian teknologi ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *