Kenali 12 Tanda Depresi Ini Jika Tak Ingin Hidup Anda Berakhir Sia-Sia

Kehidupan di dunia ini sama seperti roda, kadang naik kadang pula bisa turun. Pada umumnya kita merasa senang misalnya ketika kita mendapatkan nilai tinggi, promosi, atau bahkan perhatian yang datang dari orang yang kita idamkan. Namun, ada kalanya kita juga akan merasa sedih atau depresi, misalnya ketika kita mendapatkan penolakan dari seseorang, gagal dalam ujian ataupun tengah kesulitan dalam ekonomi.

Merupakan suatu kewajaran bila kita merasa senang terhadap suatu hal yang menggembirakan. Begitu juga sebaliknya, bila kita dihadapkan pada kejadian yang menyedihkan pasti kita akan merasa sedih. Seseorang bisa dikatakan “Abnormal” bila tidak sedih atau depresi ketika dihadapkan pada kesulitan hidup.

Tahukah anda bahwa depresi diprediksi menjadi penyebab utama penyakit pada tahun 2030 mendatang, terutama pada wanita? Kematian terkait depresi sering kali menjadi penyebab seseorang melakukan bunuh diri atau terkena stroke. Dan karena alasan itu, depresi kini mulai menjadi beban penyakit global tertinggi ketiga di dunia.

Bagi penderita depresi, pikiran negatif seakan terus membayangi semua pemikiran dan tindakan mereka. Beberapa orang mengalami depresi berat, sehingga mereka tidak memiliki energi untuk mendapatkan pertolongan dan memungkinkan mereka memiliki pikiran untuk melakukan bunuh diri tanpa ada orang yang menyadarinya.

Dengan menyadari tanda-tanda dari depresi, dapat membantu anda untuk menentukan apakah anda atau orang yang ada di sekeliling anda sedang membutuhkan dukungan dan pengobatan atau tidak.

Apa Itu Depresi?

Depresi atau dalam istilah medis disebut Major depressive Disorder (MDD) adalah sindrom yang secara negatif mempengaruhi kehidupan seseorang. Ini terdiri dari kumpulan gejala tertentu yang menonaktifkan kemampuan penderitanya untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mengalami depresi, biasanya seseorang akan merasa sedih, putus harapan, merasa tidak berharga, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya disukainya, atau sering menyalahkan diri sendiri.

Kata depresi berasal dari kata bahasa Latin yaitu “Depressare” dan kata Latin klasik “Deprimere,” yang secara harfiah jika diartikan memiliki istilah menekan. Peneliti mengungkapkan bahwa istilah tersebut mengindikasikan adanya tekanan, merasa sedih atau murung.

Depresi sendiri mencakup beberapa fase yang berbeda dan beberapa orang yang mungkin mengalami satu atau beberapa dari fase tersebut dalam jangka waktu tertentu.

Beberapa orang yang mengalami gejala ini memiliki tanda-tanda depresi yang bertahan lebih lama, dengan gabungan fase yang tergolong parah dan yang kurang parah. Orang lain akan mengalami depresi kronis yang berlangsung bertahun-tahun.

Ada sekitar empat fase yang sering disangkutpautkan dengan gejala depresi yang paling umum, meliputi:

  • Episode depresi – suasana hati yang rendah dan malas untuk melakukan aktivitas apapun dalam beberapa waktu.
  • Kambuh – terjadi ketika tanda depresi kembali dalam enam bulan setelah episode depresi terakhir.
  • Depresi berulang – ketika tanda-tanda depresi kembali lebih dari enam bulan setelah episode terakhir, atau bahkan bertahun-tahun kemudian.
  • Depresi kronis – saat episode depresi berlangsung lebih lama dari dua tahun. Jenis depresi ini disebut dysthymia.

Faktor-Faktor Yang Dapat Mengakibatkan Depresi

Depresi bisa timbul dalam berbagai macam aspek kehidupan dan juga dalam banyak situasi. Penelitian menunjukkan bahwa depresi lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria. Gejala depresi yang dialami oleh pria dan wanita biasanya akan berbeda.

Studi menunjukkan, sekitar 21% para wanita yang mengalami gangguan depresi ini sering diakibatkan oleh masa lalu mereka yang mungkin sangat kelam. Statistik tersebut menunjukkan bahwa tingkat keparahan pada wanita dua kali lipat dari pria yang hanya 12% saja.

Perbedaan jenis kelamin menurut Data nasional juga menunjukkan bahwa gangguan ini akan dialami untuk pertama kali saat berusia 10 tahun dan akan terus bertahan sampai paruh baya sekitar 55 tahun

Oleh karena itu, wanita memiliki resiko terbesar untuk mendapatkan gangguan depresi ini setelah melewati masa pubertas dan selama masa melahirkan anak.

  • Pada Wanita

Penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa proses biologis yang dapat mempengaruhi wanita terhadap depresi. Ini termasuk kerentanan genetis dan fluktuasi hormonal, yang berkaitan dengan berbagai aspek fungsi reproduksi. Misalnya, variasi kadar hormon ovarium dan penurunan estrogen yang dialami wanita telah terbukti menjadi faktor penting.

Masalah reproduksi seperti ketidaksuburan, keguguran, kontrasepsi dan terapi sulih hormon (yang masih memiliki rahin) juga telah dilaporkan menjadi penyebab depresi pada wanita.

Studi juga menunjukkan bahwa pil KB dapat mempengaruhi hal ini, yang ditandai dengan golongan seks yang rendah, kurangnya nafsu makan, ketidakberdayaan, ketidaktertarikan, perubahan watak secara keseluruhan namun bersifat sementara.

Peristiwa psikososial atau hubungan antar sosial seperti stres (dalam hal perkerjaan), korban kejahatan, sosialisasi khusus seks, internalisasi dan status sosial yang kurang beruntung, juga telah dianggap sebagai kontribusi meningkatnya depresi terhadap perempuan.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Psychiatry and Neuroscience, wanita cenderung lebih sensitif terhadap hubungan interpersonal atau komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih, sedangkan pria lebih memperhatikan kepekaan terhadap karir eksternal dan faktor yang berorientasi pada tujuan.

Wanita juga mengalami bentuk-bentuk spesifik penyakit terkait depresi, termasuk depresi pasca melahirkan dan depresi pasca menopause dan kecemasan.

  • Pada Lansia

Tanda-tanda depresi klinis juga lebih sering terjadi pada orang tua, tidak seperti penyakit bipolar atau depresi manik, yang biasanya muncul pada akhir remaja dan awal masa dewasa. Belakangan ini, menurut kebanyakan peneliti mengatakan gangguan depresi paling utama yang muncul untuk pertama kalinya berada pada usia 60 atau lebih.

Peneliti mengatakan bahwa sulit bagi pusat layanan kesehatan untuk secara akurat mendiagnosis depresi pada orang tua, karena tanda-tanda depresi, seperti kelelahan, kehilangan nafsu makan dan gangguan tidur, biasanya dievaluasi sebagai bagian dari penyakit medis.

Orang tua mungkin juga mengalami kesulitan mengekspresikan emosinya. Mereka juga sering kali menyembunyikan keluhan terkait masalah kognitif dikarenakan mereka menganggap gejala ini sebagai proses penuaan yang normal.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di Aging and Disease, ada beberapa tanda yang dapat dilihat dan yang paling sering terjadi pada lansia, yaitu:

  • Usia
  • Lebih Kepada Perempuan
  • Hidup sendirian
  • Bercerai
  • Memiliki tingkat pendidikan yang rendah
  • Memiliki gangguan fungsionalitas misalkan cacat
  • Sedang sakit fisik
  • Memiliki disfungsi kognitif tingkat rendah
  • Penggunaan rokok dan alkohol
  • Kehilangan tujuan hidup
  • Penggunaan beberapa obat
  • Masalah dalam ekonomi

Depresi juga dapat terjadi bersamaan dengan penyakit medis serius lainnya, termasuk diabetes, kanker, penyakit jantung dan penyakit Parkinson. Selain itu, obat yang diambil untuk penyakit fisik ini dapat menyebabkan efek samping yang berkontribusi terhadap depresi. Beberapa faktor risiko depresi lainnya termasuk riwayat depresi, stres, perubahan kehidupan dan trauma keluarga.

Penyebab Depresi Tergantung Dari Peristiwa Yang Dialami

Depresi bisa terjadi pada usia berapa pun, namun depresi biasanya mulai terjadi saat usia dewasa. Penyebab depresi secara spesifik masih belum diketahui pasti, diduga kondisi ini terjadi akibat kombinasi dari faktor genetik, biologis, psikologis dan lingkungan.

Berikut adalah beberapa contoh dari banyak penyebab depresi yang dapat anda kenali, antara lain sebagai berikut:

  • Genetika
  • Tekanan hidup
  • Pengalaman traumatis
  • Masalah emosional yang belum terselesaikan
  • Obat tertentu
  • Kondisi medis (seperti kanker, stroke, serangan jantung atau tiroid yang kurang aktif)
  • Penyalahgunaan zat
  • Kurang sinar matahari
  • Ketidakseimbangan neurotransmiter seperti gangguan perilaku dan psikiatrik
  • Ketidakseimbangan hormon
  • Kekurangan gizi
  • Diet
  • Hipoglikemia atau gangguan kesehatan

Selama bertahun-tahun, para peneliti telah menemukan bahwa lebih banyak kasus depresi, yang ditandai oleh suatu metode dari beberapa pengalaman atau situasi yang penuh dengan tekanan ringan dan biasanya proses ini terjadi secara perlahan-lahan.

Ini termasuk stres dalam kerja, tuntutan rumah tangga dan masalah keuangan, perceraian atau kehilangan pekerjaan. Kita dapat menyelam lebih dalam pada beberapa penyebab depresi umum ini untuk lebih memahami bagaimana lingkungan, keadaan dan keputusan pribadi, dan serta kondisi fisik dapat meningkatkan resiko terkena depresi.

Sekitar setengah juta orang Amerika, terutama dari iklim utara, menderita kelainan afektif musiman atau Seasonal Affective Disorder (SAD), jenis depresi ringan yang terjadi pada waktu yang sama setiap tahunnya.

Dipercaya juga bahwa kekurangan vitamin D dan kurangnya sinar matahari membuat bagian otak tidak berfungsi dengan baik, sehingga menyebabkan terganggunya ritme sirkadian (proses biologis yang terus terjadi selama 24 jam).

Saat ritme sirkadian kita gagal, hal tersebut dapat meningkatkan kadar melatonin. Melatonin yang meningkat membuat kita merasa mengantuk dan lesu, serta menurunkan kadar serotonin kita, mempengaruhi mood dan nafsu makan kita.

Makanan kita bisa menjadi kontributor utama untuk mengembangkan depresi juga. Karena tubuh kita adalah sistem yang saling berhubungan satu sama lain. Segala sesuatu yang kita masukkan ke dalam tubuh, mengekspos mereka atau mempengaruhi mereka melakukan sesuatu terhadap kita.

Makanan yang kita makan tidak hanya akan mempengaruhi pencernaan dan energi kita, tapi juga mengubah neurokimia otak kita, khususnya neurotransmiter.

Dopamin neurotransmiter, norepinephrine dan serotonin mampu mempengaruhi mood dan perilaku seseorang. Bila ada terjadi ketidakseimbangan, hal ini bisa menimbulkan tanda-tanda depresi.

Faktanya, serotonin berfungsi untuk mengurangi ketegangan, sedangkan dopamin dan norepinephrine meningkatkan kewaspadaan. Makanan yang biasa dikonsumsi dalam makanan Barat, memiliki kemampuan untuk mengubah keseimbangan neurotransmitter tersebut.

Tingkat tinggi asam lemak omega 6 dan 9 pada makanan olahan misalnya, telah diketahui dapat menyebabkan masalah dramatis dalam produksi serotonin.

Hipoglikemia (gula darah rendah) adalah hal yang sama yang sering diabaikan dalam depresi. Mengkonsumsi gula dan karbohidrat sederhana seperti nasi putih, roti putih dan tepung purih, menyebabkan kenaikan gula darah yang sangat cepat dan dramatis.  Hal inilah yang kemudian akan menghasilkan respons insulin yang berlebihan.

Sebuah studi tahun 2013 yang dilakukan di University of Washington Medical School, Amerika Serikat dilakukan dengan melibatkan lebih dari 4.000 pasien diabetes.

Peneliti kemudian menemukan bahwa pasien yang mengidap depresi dibandingkan dengan pasien yang tidak depresi memiliki resiko episode hipoglikemik yang jauh lebih tinggi dan lebih banyak.

Alkohol menurunkan kadar serotonin dan norepinephrine, ia menekan otak dan sistem saraf dan menghilangkan aksi hormon stres. Menurut sebuah penelitian tahun 2011 yang dipublikasikan di Addiction, ada kaitan antara gangguan penggunaan alkohol dan depresi berat.

Peneliti juga menemukan bahwa meningkatnya keterlibatan dengan alkohol, juga meningkatkan resiko depresi. Mekanisme potensial yang mendasari hubungan ini meliputi perubahan neurofisiologis dan metabolik akibat paparan alkohol.

Paparan jamur beracun adalah penyebab lain depresi yang terkadang tidak dianggap cukup serius. Penelitian yang dipublikasikan di The American Journal of Public Health menunjukkan bahwa ada kaitan antara jamur dengan tanda-tanda depresi.

Data ini didapat dari kurang lebih 6.000 orang dewasa di Eropa dan penelitian yang dilakukan ini telah membuktikan bahwa jamur beracun menyebabkan depresi.

Tanda-Tanda Seseorang Mengalami Depresi

Memiliki perasaan sedih dan kadang kesepian merupakan hal yang sangat normal dialami oleh setiap manusia serta reaksi umum dalam memperjuangkan hidup.

Namun, ketika perasaan sedih, kesepian dan depresi bercampur menjadi satu, akan menimbulkan efek luar biasa sehingga membuat anda menghindari interaksi sosial, aktivitas fisik dan kejadian normal lainnya.

Oleh karena itu, anda mungkin akan memerlukan bantuan dari seseorang seperti keluarga, teman atau petugas kesehatan. Meskipun ada fitur depresi yang kompleks dan beragam, ada beberapa tanda depresi yang umum, yang dapat membantu anda untuk membuat diagnosis yang akurat.

  • Kelelahan

Orang yang mengalami depresi sering merasa kelelahan dan tidak dapat melakukan pekerjaan fisik atau mental. Dalam sebuah penelitian besar yang dilakukan, hampir 2.000 pasien depresi di enam negara, sebanyak 73 persen pasiennya setuju bahwa mereka mengalami kelelahan.

  • Gangguan Tidur

Tanda-tanda lainnya yang bisa terjadi ketika depresi adalah gangguan tidur atau insomnia. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Dialogues in Clinical Neuroscience, sekitar tiga perempat pasien yang depresi memiliki gejala insomnia dan hypersomnia (atau kantuk berlebihan), yang didapat dari sekitar 40 persen orang dewasa yang depresi dan 10 persen pasien yang lebih tua.

Gejalanya menyebabkan tekanan besar, memiliki dampak pada kualitas hidup dan merupakan faktor resiko yang kuat untuk seseorang melakukan bunuh diri.

  • Kesulitan Berkonsentrasi dan Berpikir

Tanda-tanda disfungsi kognitif pada pasien depresi mencakup gangguan pada kecepatan psikomotor, ingatan, kelancaran verbal, perhatian, fungsi eksekutif (seperti perencanaan dan pemecahan masalah) dan kecepatan pemrosesan.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Annual Review of Clinical Psychology, sesorang akan kesulitan berpikir jika ada suatu gangguan yang menggangu pikirannya.

Hilangnya fokus dan konsentrasi yang disebabkan karena terlalu banyak beban pikiran, merupakan salah satu tanda-tanda depresi. Depresi yang berat kadang bisa membuat orang tidak bisa bekerja atau belajar secara efektif.

  • Perasaan Tak Berharga atau Putus asa

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders, model kognitif memprediksi bahwa kerentanan terhadap depresi disebabkan oleh perasaan menyalahkan diri sendiri karena kegagalan secara global.

Hal ini berakibat pada emosi menyalahkan diri yang berlebihan, penurunan harga diri, keputusasaan dan mood yang tertekan. Sebuah studi yang melibatkan 132 pasien dengan gangguan depresi utama menemukan bahwa, perasaan tidak mampu, mood yang tertekan dan keputusasaan muncul sebagai gejala yang paling sering terjadi dan konsisten, yang mempengaruhi lebih dari 90 persen pasien.

  • Mudah Tersinggung Atau Gelisah

Studi klinis terhadap anak-anak dan remaja depresi telah menunjukkan bahwa gejala yang paling sering dilaporkan adalah iritabilitas (kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya).

Penelitian juga menunjukkan bahwa iritabilitas lebih mungkin terjadi pada wanita muda, orang yang pengangguran, rendahnya akan status fungsional dan kualitas hidup, serta memiliki riwayat setidaknya satu usaha bunuh diri. Juga, menurut penelitian yang dilakukan di Psecchiatry Molekuler, iritabilitas dengan serangan kemarahan mungkin ada di lebih dari sepertiga pasien dengan gangguan depresi berat.

  • Hilangnya Kepentingan dalam Hobi atau Kegiatan

Salah satu tanda utama depresi adalah berkurangnya minat untuk bekerja dan melakukan hobi. Istilah ilmiah untuk mengurangi kemampuan untuk mengalami kesenangan adalah anhedonia.

Orang yang depresi tidak lagi menghargai aktivitas dan hobi yang pernah membuat mereka senang. Orang mungkin mulai merasa seolah tidak punya tujuan. Mereka kehilangan koneksi sosial karena ketidakaktifan mereka di masyarakat, di tempat kerja atau di dalam keluarga.

  • Perubahan Pada Pola Makan

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Indian Journal of Psychiatry, pola makan yang sebelumnya yang menyebabkan depresi awal pada seseorang memiliki pengaruh yang sama, bahkan pada saat orang tersebut telah memasuki masa depresi.

Ini mungkin termasuk nafsu makan yang buruk, melewatkan keinginan yang dominan untuk memakan makanan manis. Ada bukti pula bukti yang beredar bahwa faktor gizi ada hubungannya dengan kognisi, perilaku dan emosi manusia.

Peneliti menerbitkan sebuah penelitian di American Journal of Psychiatry, dimana mereka menemukan bahwa banyak daerah otak yang bertanggung jawab atas nafsu makan dan tanggapan terhadap makanan itu sendiri yang terlibat dalam depresi.

Penelitian juga menemukan bahwa orang dengan nafsu makan yang meningkat juga berhubungan langsung dengan depresi, yang menunjukkan aktivitas hemodinamik (aliran darah) yang lebih besar pada rangsangan makanan, sementara pasien depresi yang mengalami kehilangan nafsu makan menunjukkan hipoaktivasi (kurang katif) daerah insular otak.

  • Sakit Atau Nyeri Yang Terus Menerus

Tanda-tanda depresi secara fisik termasuk nyeri sendi, nyeri tumit dan nyeri punggung. Menurut penelitian yang dilakukan di University of Texas Southwest Medical School, sakit fisik dan depresi memiliki hubungan biologis yang lebih dalam daripada sebab dan akibat yang sederhana.

Neurotransmiter yang mempengaruhi rasa sakit dan suasana hati adalah serotonin dan norepinephrine. Disregulasi pemancar ini berhubungan dengan depresi dan rasa sakit.

Peneliti menyarankan bahwa secara umum, semakin buruk gejala fisik yang menyakitkan, semakin parah pula depresi yang akan dialami. Peningkatan untuk bunuh diri juga ditemukan pada pasien dengan nyeri kronis.

  • Masalah Pencernaan

Data menunjukkan bahwa stres emosional dan depresi dapat mempengaruhi perkembangan gangguan saluran gastrointestinal. Dalam studi tahun 2015, stres dan depresi berhubungan erat dengan dispepsia fungsional (atau ketidaknyamanan di dada dan perut), sindrom iritasi usus besar dan esofagitis refluks. Depresi juga terkait dengan sakit maag, tumor jinak dan kanker usus besar dan perut.

  • Kecemasan

Studi menunjukkan bahwa 90 persen pasien depresi memiliki gejala kecemasan yang menyertai mereka dan sekitar 50 persen pasien depresi memenuhi kriteria gangguan kecemasan komorbid, yang berarti mereka secara simultan mengalami tanda-tanda depresi dan kecemasan, atau dua kondisi pada saat bersamaan.

  • Disfungsi Seksual

Tanda depresi yang penting dan sering diabaikan oleh kebanyakan orang adalah disfungsi seksual. Penelitian menunjukkan bahwa libido yang rendah dapat menyebabkan hubungan interpersonal atau pernikahan yang buruk, yang secara tidak langsung dapat mengakibatkan depresi lebih lanjut.

Akan tetapi, banyak penderita yang melaporkan bahwa penurunan libido yang membuat mereka merasa kesulitan untuk bergairah, mengakibatkan kekeringan pada vagina wanita dan disfungsi ereksi pada pria, serta orgasme yang tidak ada atau terlambat merupakan hal yang biasa.

Menurut sebuah tinjauan yang telah dilakukan pada tahun 2009 yang dilakukan di University of Toronto, Kanada, disfungsi seksual juga merupakan efek buruk yang sering terjadi pada pengobatan dengan penggunaan antidepresi yang banyak dan merupakan salah satu penyebab utama penghentian obat.

  • Berpikir Melakukan Bunuh Diri

Data yang dipublikasikan dalam Annals of General Psychiatry, menunjukkan bahwa antara 59 dan 87 persen korban bunuh diri menderita depresi berat. Orang yang mengalami kecemasan dan depresi secara bersamaan, beresiko lebih besar untuk mengembangkan pikiran melakukan bunuh diri.

Penelitian juga menunjukkan bahwa pria yang mengalami situasi buruk, kerugian sosial seperti kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan atau pendapatan dan penurunan kemampuan, penyakit fisik dan stresor psiko sosial akut juga merupakan faktor risiko tersebut.

Kesimpulan

Walau secara umum depresi ditunjukkan oleh sekelompok gejala tertentu, namun gejala depresi yang menonjol dapat muncul berbeda-beda pada tiap orang.

Ada yang misalnya lebih dikuasai oleh gejala perasaan dan pikiran, seperti sedih berkepanjangan dan berpikir negatif tentang diri sendiri terus-menerus, atau gejala fisik dan perilaku, seperti sulit tidur dan tidak bisa beraktivitas karena merasa lelah sepanjang waktu.

Mengamati ciri awal depresi yang khas pada diri sendiri adalah hal yang penting. Kapanpun gejala awal tersebut muncul, maka seseorang akan dapat langsung mengambil langkah untuk menanganinya. Semakin cepat ditangani tentu semakin baik, bukan?

Jangan menyepelekan atau membiarkan depresi begitu saja, karena dampaknya sangat berbahaya. Berbagai studi telah menemukan hubungan yang sangat erat antara depresi dengan penyakit hati dan gagal jantung.

Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang menderita depresi memiliki kemungkinan 58% lebih banyak, untuk terserang obesitas akibat perubahan pola makan yang drastis dan kurang berolahraga.

Artikel ini kami buat agar anda bisa terhindar dari efek depresi berat yang dapat menimbulkan keinginan untuk bunuh diri. Dengan mengenal tanda-tanda awal serta penyebabnya, semoga dapat membuka pola pikir anda dan meyakinkan anda kalau setiap orang mampu mengendalikan depresi dan bukan malah anda yang dikendalikan oleh depresi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *