Tak Hanya Dengan Operasi, Hipotiroidisme Bisa Disembuhkan Dengan Cara Alami

Hipotiroidisme adalah suatu kondisi dimana kelenjar tiroid menjadi kurang aktif sehingga melepaskan hormon tiroid. Kelenjar tiroid ini biasanya melepaskan banyak hormon penting, yang berjalan melalui aliran darah untuk mencapai reseptor yang terdapat di seluruh tubuh.

Jadi dengan begitu bisa dibilang kalau gangguan dari fungsi tiroid ini dapat menyebabkan masalah kesehatan yang luas pada seseorang. Menurut American Thyroid Association, ada sekitar 12 persen orang Amerika yang berpotensi mengembangkan kondisi tiroid ini selama hidup mereka.

Beberapa perkiraan juga menunjukkan ada sekitar 40 persen populasi yang menderita Hipotiroidisme yang setidaknya kurang aktif. Wanita yang lebih tua merupakan kelompok yang paling rentan untuk mengembangkan hipotiroidisme.

Wanita yang berusia lanjut atau yang memiliki penyakit autoimun lain seperti diabetes, rheumatoid arthritis dan penyakit celiac, juga berisiko tinggi terkena penyakit ini.

Perubahan metabolisme seperti fungsi jantung, pencernaan, energi, nafsu makan, tidur atau mood bahkan pertumbuhan rambut, kulit dan kuku anda, semua itu bisa disebabkan oleh hipotiroidisme.

Namun, diagnosis dari penyakit ini bukanlah merupakan hukuman mati bagi orang-orang yang mengidapnya. Jadi anda tidak perlu terlalu khawatir akan hal tersebut, karena ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengobati Hipotiroidisme secara alami, yang salah satunya adalah dengan cara mengatur pola makan dan melakukan pengobatan alami lainnya.

Lalu, apa saja gejala yang ditimbulkan dari Hipotiroidisme yang paling umum? Anda akan segera mengetahuinya setelah penjelasan berikut ini.

Perbedaan Hipotiroidisme Dengan Hipertiroidisme

Anda semua pasti sudah tahu kalau tiroid adalah kelenjar kecil yang terletak di bawah leher atau lebih tepatnya di jakun. Dengan satu atau lebih cara, tanpa anda sadar tiroid anda terhubung langsung dengan setiap organ dalam tubuh anda.

Hipotiroidisme dan Hipertiroidisme adalah dua kondisi yang mempengaruhi bagaimana tiroid melakukan pekerjaan yang tidak semestinya, yang dapat menyebabkan beberapa gejala di seluruh tubuh. Untuk mengetahui perbedaan keduanya, langsung saja baca penjelasannya di bawah ini.

  • Hipertiroidisme

Hipertiroidisme adalah kondisi dimana kadar hormon tiroksin di dalam tubuh menjasdi sangat tinggi. Hormon tiroksin dihasilkan oleh kelenjar tiroid dan berperan dalam berbagai proses metabolisme. Oleh sebab itu, gangguan pada hormon ini akan menyebabkan gangguan metabolisme tubuh.

Bila anda menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid, anda mungkin akan memiliki Hipertiroidisme. Beberapa penyebab hipertiroidisme termasuk penyakit Grave, bengkak tiroid atau nodul pada tiroid.

Adapun gejala yang mungkin akan anda alami adalah meliputi:

  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Rambut menipis atau rontok
  • Kecemasan
  • Berkeringat berlebihan
  • Detak jantung tidak beraturan
  • Sering BAB (buang air besar)
  • Kulit gatal

Jika ini dibiarkan begitu saja dan tidak segera mendapatkan penanganan khusus, orang yang mengalami gejala dari Hipertiroidisme dengan cepat akan kehilangan kepadatan tulang dan membuat jantung berdetak tidak beraturan, sehingga meningkatkan resiko terjadinya stroke.

Ada obat yang biasa diresepkan oleh dokter untuk membatasi aktivitas yang terjadi pada tiroid ini. Salah satu cara muktahir yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pembedahan untuk menghilangkan semua kelenjar tiroid tersebut.

Selain melalui proses pembedahan yang membutuhkan biaya yang besar, sangat penting untuk mencari jalan lain yang lebih alami dan aman pastinya serta efektif untuk menyembuhkan masalah ini. Misalnya saka meneliti jenis makanan apa saja yang bisa meningkatkan resiko tersebut dan lain sebagainya.

  • Hipotiroidisme

Hipotiroidisme adalah istilah yang mengacu pada simtoma atau gejala menurunnya sintesis dan sekresi hormon tiroid dari kelenjar tiroid. Pada umumnya, penyebab hipotiroidisme adalah kurangnya asupan gizi berupa iodina atau yodium.

Lebih tepatnya, Hipotiroidisme adalah kebalikan dari Hipertiroidisme yang dimana kelenjar tiroid kurang aktif. Jika dokter yang memeriksa anda menemukan kalau anda mengalami Hipotiroidisme, bisa jadi anda akan mengalami gejala seperti di bawah ini:

  • Kelelahan
  • Gangguan mood (seperti depresi)
  • Rambut rontok
  • Penambahan berat badan
  • Sembelit
  • Kulit retak
  • Gondok

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan Hipotiroidisme menjadi kurang aktif. Salah satunya adalah melakukan diet rendah yodium, paparan radiasi hingga Tiroiditis Hashimoto atau sejenis gangguan sistem imun yang melawan jaringan tubuh sehat itu sendiri.

Orang yang terkena penyakit tiroid ini sangat dianjurkan untuk menghindari paparan radiasi sebanyak mungkin, seperti sinar-X atau perawatan gigi.

Sampai saat ini, masih belum ada obat yang bisa digunakan untuk diagnosis Hipotiroidisme, namun ada beberapa cara untuk meningkatkan produksi hormon tiroid secara alami yang bisa anda lakukan.

Pengobat konvensional umumnya akan menyarankan anda untuk minum tablet Synthroid (tablet hormon tiroid tiruan) yang harus dikonsumsi setiap hari.

Langkah pertama dalam pengobatan hipotiroidisme alami adalah menghilangkan penyebab disfungsi tiroid, seperti peradangan, gangguan obat secara berlebihan, kekurangan gizi dan perubahan hormon akibat stres.

Diet hipotiroidisme juga akan membantu anda mengatasi masalah ini. Diet yang dimaksud bisa anda lakukan dengan menghilangkan beberapa jenis makanan yang bisa menyebabkan peradangan dan reaksi kekebalan dalam tubuh.

Fokus lah pada makanan yang dapat membantu penyembuhan saluran GI yang dapat menyeimbangkan hormon serta mengurangi peradangan yang anda alami.

Pemicu Terjadinya Hipotiroidisme

Penyebab terjadinya Hipotiroidisme pada seseorang sangatlah bervariasi, termasuk di antaranya adalah sebagai akibat atau efek samping dari terapi, radioterapi, pembedahan dan penyakit autoimun. Beberapa penyebab Hipotiroidisme yang sering terjadi adalah sebagai berikut:

  • Gangguan Inflamasi Tiroid

Seperti yang sudah dijelaskan tadi sebelumnya, penyebab Hipotiroidisme yang pertama dan paling umum di negara-negara maju adalah kondisi yang disebut dengan Tiroiditis Hashimoto.

Ini adalah kelainan endokrin autoimun yang terjadi saat tiroid menjadi meradang. Ketika seseorang memiliki penyakit Hashimoto, tubuh akan menyerang jaringan sehat. Imun yang ada di dalam tubuh akan menyerang sistem imun tersebut dengan menghasilkan antibodi yang mencoba untuk menghancurkan kelenjar tiroid.

Mengapa ini bisa terjadi? Karena sistem kekebalan tubuh salah mengira bahwa sel tiroid bukanlah bagian dari tubuh, jadi ia mencoba untuk mengeluarkannya sebelum menyebabkan kerusakan dan penyakit.

Masalahnya yang terjadi setelah kekurangan imun adalah menyebabkan peradangan luas, yang bisa berakibat pada berbagai masalah lainnya.

Menurut Dr. Datis Kharrazian, 90 persen orang dengan Hipotiroidisme memiliki Hashimoto yang membakar kelenjar tiroid dari waktu ke waktu, tapi ini bukan satu-satunya penyebab Hipotiroidisme.

  • Pola Makan Yang Buruk

Orang biasanya melakukan diet makanan yang kaya akan protein, seperti yodium dan selenium yang merupakan trace mineral penting untuk fungsi tiroid, sehingga dapat meningkatkan resiko gangguan tiroid.

Kelenjar tiroid sangat membutuhkan selenium dan yodium untuk menghasilkan kadar hormon tiroid yang memadai. Nutrisi ini juga memainkan peran pelindung lainnya di tubuh.

Sebagai contoh, kekurangan selenium yang parah meningkatkan kejadian tiroiditis karena menghentikan aktivitas antioksidan yang sangat kuat, yang dikenal sebagai glutathione, yang biasanya mengendalikan peradangan dan melawan stres oksidatif.

  • Ketidakseimbangan Hormon

Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, kelenjar pituitary membuat hormon yang disebut Thyroid Stimulating Hormone (TSH) yang mengendalikan kadar hormon yang dipompa keluar dari tiroid. Masalah dengan kelenjar pituitary dapat menyebabkan perubahan pada fungsi tiroid.

  • Peradangan usus (Leaky Gut Syndrome)

Daerah usus yang tidak sehat dapat menyebabkan kekurangan nutrisi dan meningkatkan aktivitas autoimun di dalam tubuh. Sensitivitas makanan atau alergi, termasuk gluten dan susu, bisa memicu peradangan usus.

Penyebab lain dari usus yang rusak adalah tingkat stres yang tinggi, toksin yang berlebihan dari diet yang dilakukan, lingkungan dan ketidakseimbangan bakteri.

Ketika terjadi kebocoran usus, partikel kecil yang biasanya terjebak di dalam usus mulai keluar ke aliran darah melalui lubang kecil di lapisan usus, yang menciptakan kaskade autoimun dan serangkaian gejala negatif.

  • Genetika

Meski tidak begitu umum, bayi yang baru lahir kadang terlahir dengan disfungsi kelenjar tiroid, yaitu sebuah kondisi genetik yang dikenal sebagai Hipotiroidisme Kongenital.

Beberapa bukti menunjukkan bahwa orang lebih cenderung mengembangkan Hipotiroidisme jika mereka memiliki anggota keluarga dengan penyakit autoimun.

Namun menurut National Institute of Health (NIH), kemungkinan hipotiroidisme kongenital sangat rendah dan hanya sekitar satu dari setiap 4.000 bayi yang baru lahir dengan kelainan tiroid.

  • Ketika Masa Kehamilan

Selama atau setelah masa kehamilan, meski tidak diketahui secara pasti mengapa, beberapa wanita mulai menghasilkan hormon tiroid tingkat tinggi, yang kemudian diikuti oleh penurunan yang sangat cepat.

Kondisi ini biasanya dikenal dengan istilah Postpartum Thyroiditis. Gejalanya sering hilang dalam 12-18 bulan, namun bisa juga menyebabkan Hipotiroidisme permanen.

  • Interaksi Terhadap Obat Tertentu

Pengobatan spesifik tampaknya sering mengarah pada pengembangan tiroid yang kurang aktif. Yang paling umum di antaranya adalah obat untuk mengobati kanker, masalah jantung dan kondisi kejiwaan tertentu.

  • Tingkat Stres Emosional Yang Tinggi

Stres mempengaruhi hormon dan diketahui dapat memperburuk peradangan. Stres dapat meningkatkan kadar kortisol dan adrenalin, yang mengganggu fungsi Neurotransmitter dan memperburuk gejala penyakit tiroid.

Ini termasuk tingkat energi rendah, suasana hati yang buruk, konsentrasi rendah, nafsu makan terganggu dan penambahan berat badan dan ketidakmampuan untuk tidur nyenyak.

  • Kurang Olahraga

Olahraga dan diet sehat adalah hal penting untuk mengendalikan stres dan mengelola fungsi neurologis terkait hormon. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang berolahraga secara teratur biasanya mendapatkan tidur yang lebih baik, mengatasi stres dengan lebih baik dan lebih sering mempertahankan berat badan yang lebih sehat, yang semuanya mengurangi beberapa faktor resiko dan gejala terbesar yang terkait dengan Hipotiroidisme.

Efek Yang Muncul Akibat Hipotiroidisme

Umumnya dalam dunia kesehatan, tiroid dianggap sebagai “kelenjar master.” Selain memproduksi hormon krusial, kelenjar ini juga berfungsi membantu mengendalikan proses pengubahan nutrisi dari makanan menjadi energi yang dapat digunakan untuk bekerja.

Karena tiroid memainkan peran penting dalam metabolisme tubuh kita, disfungsi yang terjadi dapat mempengaruhi hampir seluruh bagian tubuh, termasuk tingkat energi dan kemampuan anda untuk membakar kalori.

Hormon-hormon kunci yang diproduksi oleh tiroid juga membantu hati menghancurkan kolesterol yang beredar melalui aliran darah. Tiroid juga dapat merangsang enzim yang dibutuhkan untuk mengendalikan kadar lemak trigliserida. Inilah sebabnya mengapa perubahan fungsi tiroid dapat menyebabkan masalah jantung.

Efek Hipotiroidisme lainnya yang terlihat jelas adalah meliputi cemas dan metabolisme tubuh yang lambat. Intinya, bila tiroid anda kurang aktif, metabolisme anda akan menjadi terhambat, yang berarti anda akan selalu merasa lelah atau berusaha menahan berat badan.

Suasana hati anda juga sangat rentan terhadap perubahan tingkat hormon, sehingga beberapa orang dengan Hipotiroidisme seringkali menghadapi depresi, kegelisahan, kesulitan tidur dan kekebalan tubuh yang rendah.

Tak hanya itu, kelenjar tiroid juga membantu mengatur pesan-pesan kimiawi yang disebut dengan Neurotransmitter, yang mengendalikan emosi dan sinyal saraf anda. Inilah alasan mengapa Tiroid Out of Balance bisa berarti perubahan emosional secara drastis.

Ada beberapa tanda yang menjadi peringatan hipotiroidisme yang paling umum, antara lain sebagai berikut:

  • Kelelahan
  • Depresi dan kecemasan
  • Berat badan
  • Ketidaksuburan
  • Tenggorokan kering
  • Merasa kedinginan
  • Sembelit
  • Sakit otot dan nyeri
  • Kekakuan dan pembengkakan di persendian
  • Rambut rontok
  • Kulit kasar dan pecah-pecah
  • Kesulitan bernafas
  • Perubahan dalam siklus menstruasi
  • Lebih sering pilek atau flu karena fungsi kekebalannya rendah

Bagaimana Cara Mengenali Hipotiroidisme?

Untuk mengetahui apakah anda memiliki Hipotiroidisme atau tidak, dokter akan menyuruh anda untuk menjalani tes darah, dengan tujuan untuk memeriksa kadar hormon yang dikenal sebagai Tiroksin (T4) dan TSH (Thyroid Stymulating Hormone).

Hipotiroidisme didiagnosis saat TSH meningkat tinggi. Walau terkadang TSH bisa meningkat tinggi, namun tiroid masih dapat menghasilkan cukup hormon.

Kondisi ini biasanya disebut dengan Hipotiroidisme Subklinis, dimana keadaan dengan kadar TSH meningkat ringan dan kadar FT3 dan T4 normal yang disertai dengan sedikit atau tanpa gejala klinis.

Hipotiroidisme ringan biasanya terjadi pada tahap awal. Hal ini dapat berlanjut ke Hipotiroidisme jika diet Hipotiroidisme tidak diadopsi dan perubahan gaya hidup tidak dilakukan.

Bila kondisinya tidak terkoreksi dengan baik, reaksi autoimun yang lebih parah mungkin akan terjadi. Hal ini dapat menyebabkan masalah yang semakin memburuk, seperti gangguan fungsi otak, ketidaksuburan, kehamilan yang tidak sehat, obesitas, komplikasi jantung dan nyeri sendi.

Dalam beberapa kasus, orang dengan tiroid yang  kurang aktif bisa jatuh ke dalam apa yang dikenal sebagai “Koma Myxedema”, yang dimana ditandai dengan menurunnya status mental, hipotermia dan perlambatan organ dalam.

Jika anda atau seseorang yang anda kenal memiliki masalah tiroid yang parah dan mulai menunjukkan kelelahan atau mudah pingsan, segera bawa ke dokter untuk diberikan bantuan medis.

Koma Myxedema paling sering terjadi pada orang tua dan wanita, terutama pada saat di musim dingin. Umumnya, ini adalah hasil dari Hipotiroidisme yang tidak terdiagnosis dan tidak diobati yang kemudian berakibat fatal jika tidak diobati.

Gejala lain yang harus diperhatikan dari Myxedema adalah nodul tiroid atau penumpukan sel di dalam tiroid, yang menciptakan benjolan seperti gondok.

Sebagian besar nodul tiroid tidak berbahaya, tapi beberapa dari mereka dapat menyebabkan kanker dari waktu ke waktu. Jika dokter anda mencurigai anda memiliki nodul tiroid, si pasien harus segera dievaluasi untuk memeriksa sel kanker yang kemungkinan diderita.

Untuk pasien yang menderita kanker tiroid, metode pengobatan konvensional yang umum dikenal dengan Radioiodine atau Radioaktif Yodium.

Karena tiroid dapat menyerap sebagian besar kandungan zat tubuh anda, radiasi terkonsentrasi ini mampu membunuh sebagian besar sel tiroid yang terjangkit tanpa merusak sel di seluruh bagian tubuh lainnya.

Pengobatan Alami Untuk Hipotiroidisme

Banyak individu memiliki gejala hipotiroidisme seperti memperlambat metabolisme, termasuk suhu tubuh rendah, kelelahan, berat badan, masalah berat badan, sembelit, suasana hati buruk, kepala terasa berat, kulit kering dan masalah energi di sore hari.

Cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit tiroid adalah dengan mencari pengobatan yang handal untuk Hipotiroidisme yang mampu menawarkan dukungan nutrisi penting untuk membantu mempertahankan fungsi normal hormon tiroid itu sendiri.

Selain menjalani diet hipotiroidisme, ada juga cara lain yang bisa anda gunakan, yaitu dengan menggunakan lima solusi alami untuk mengurangi gejala atau untuk menghilangkan hipotiroidisme, yaitu dengan:

  • Ashwagandha (500 miligram setiap hari)

Ashwagandha adalah ramuan adaptogen yang membantu tubuh merespons stres, menjaga kadar hormon lebih seimbang. Adaptogens membantu menurunkan kadar kortisol dan keseimbangan T4.

Faktanya, dalam uji klinis, melengkapi pengobatan dengan Ashwagandha selama delapan minggu, dapat membantu pasien hipotiroid meningkatkan kadar hormon tiroksin secara signifikan, yang mengurangi tingkat keparahan gangguan tersebut.

Selain itu, cobalah ramuan adaptogen lainnya seperti rhodiola, akar licorice, ginseng dan basil suci, yang memiliki manfaat serupa.

  • Iodin (150-300 mikrogram setiap hari)

Studi menunjukkan bahwa sejumlah kecil yodium tambahan (250 mikrogram) bisa menyebabkan sedikit perubahan yang signifikan pada fungsi hormon tiroid.

Diet yang kaya akan makanan utuh yang mengandung yodium termasuk ikan, sayuran laut, telur, susu mentah dan rumput laut dapat membantu mencegah semua kekurangan protein dalam tubuh.

Suplemen yodium tidak boleh dikonsumsi jika anda mengidap penyakit Hashimoto, karena terlalu banyak yodium dalam jangka panjang dapat meningkatkan resiko pengembangan tiroid menjadi terlalu aktif.

Meskipun hampir tidak mudah untuk mendapatkan asupan vitamin dari sejumlah makanan sehat, kadang-kadang orang yang mengkonsumsi suplemen atau makan ganggang kering dan rumput laut yang sangat tinggi dapat melebihi batas maksimal 500 miligram per hari yang disarankan.

  • Selenium (200 mikrogram per hari)

Tiroid adalah organ dengan kandungan selenium tertinggi di seluruh tubuh. Selenium diperlukan untuk produksi hormon tiroid T3 (Triidothyronine) dan dapat mengurangi efek autoimun.

Pada pasien dengan penyakit Hashimoto dan pada wanita hamil dengan gangguan tiroid, suplemen selenium mampu menurunkan tingkat antibodi dan memperbaiki struktur kelenjar tiroid.

Karena membantu menyeimbangkan kadar hormon, selenium dapat menurunkan risiko mengalami gangguan tiroid selama masa kehamilan (Tiroiditis Postpartum) dan setelahnya.

Penelitian lain telah menunjukkan bahwa kekurangan selenium diselesaikan melalui suplementasi, pasien yang mengalami rata-rata 40 persen pengurangan antibodi tiroid dibandingkan dengan kenaikan 10 persen saat diberi Plasebo.

  • L-tirosin (500 miligram dua kali sehari)

Asam amino yang digunakan dalam sintesis hormon tiroid, tiroksin (T4) secara alami dihasilkan dari iodinasi tirosin, asam amino yang tidak penting, yang diperoleh baik dari sumber makanan yang mengandung protein ataupun dari dalam tubuh.

L-tirosin telah terbukti dapat memperbaiki kekurangan tidur dan dapat membantu mengatasi kelelahan dan suasana hati yang buruk dengan memperbaiki fungsi kewaspadaan dan Neurotransmiter.

Salah satu alasan mengapa L-tirosin bermanfaat dalam penyembuhan gejala tiroid adalah karena berperan penting dalam produksi melatonin, dopamin dan Norepinephrine, yang merupakan hormon alami.

  • Minyak ikan (1.000 miligram setiap hari)

Asam lemak esensial yang ditemukan dalam minyak ikan sangat penting untuk fungsi otak dan tiroid. DHA dan EPA omega-3 yang ditemukan pada minyak ikan dikaitkan dengan risiko gejala tiroid yang lebih rendah, termasuk kecemasan, depresi, kolesterol tinggi, penyakit radang usus, artritis, diabetes, sistem kekebalan tubuh yang lemah dan penyakit autoimun yang meningkat.

Suplemen minyak ikan omega-3 juga dapat membantu menyeimbangkan kadar omega-6 dalam makanan, yang penting untuk kesehatan di kemudian hari.

  • Vitamin B-Complex (satu kapsul B-kompleks setiap hari)

Vitamin B12 dan tiamin penting untuk fungsi neurologis dan keseimbangan hormon. Penelitian menunjukkan bahwa suplemen dengan tiamin dapat membantu memerangi gejala penyakit autoimun, termasuk kelelahan kronis.

Dalam satu studi klinis, ketika pasien dengan Hashimoto diberi 600 miligram tiamin per hari, mayoritas mengalami regresi kelelahan secara lengkap dalam beberapa jam atau hari.

Vitamin B12 adalah nutrisi penting lainnya untuk mengatasi kelelahan karena bermanfaat bagi sistem saraf pusat dengan banyak cara seperti dengan menjaga kesehatan sel saraf (termasuk neurotransmiter), melindungi selubung saraf yang disebut sel Myelin dan mengubah nutrisi dari makanan menjadi energi yang dapat digunakan untuk otak dan tubuh.

  • Suplemen Probiotik (50 miliar CFU per porsi)

Probiotik dapat membantu menyembuhkan usus dan membantu penyerapan nutrisi sambil mengurangi peradangan. Manfaat lain dari probiotik berkualitas tinggi termasuk membantu mempertahankan sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat, meningkatkan energi dari produksi vitamin B12, mengurangi pertumbuhan bakteri atau virus di usus seperti kandida, meningkatkan kesehatan kulit dan membantu pengendalian nafsu makan dan penurunan berat badan.

Kesimpulan

Hipotiroidisme adalah suatu keadaan dimana kelenjar tirod kurang aktif dan menghasilkan terlalu sedikit hormon tiroid. Hipotiroidisme terjadi akibat penurunan kadar hormon tiroid di dalam darah.

Ada beberapa gejala yang akan timbul ketika seseoramg mengidap Hipotiroidime, yang diantaranya adalah seperti kelelahan, depresi dan kecemasan, masalah berat badan, ketidaksuburan, tenggorokan kering, merasa kedinginan, sembelit, sakit otot dan nyeri, kekakuan dan pembengkakan di persendian, rambut rontok, kulit kasar dan pecah-pecah, kesulitan bernafas, perubahan dalam siklus, menstruasi, lebih sering pilek atau flu karena fungsi kekebalannya rendah

Peran keluarga dalam penanganan Hipotiroidisme dan mencegah terjadinya hipotiroidisme adalah dengan memberikan asupan gizi yang tepat. Asupan yang tepat untuk penderita Hipotiroidisme harus dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan semakin parahnya Hipotiroidisme.

Itulah tadi artikel kami mengenai Hipotiroidisme mulai dari gejala, penyebab serta mengobati dengan menggunakan cara alami. Jika anda menemukan salah satu anggota keluarga anda mengalami hipotiroidisme ini, sebaiknya anda segera membawanya ke dokter untuk diperiksa dan mendapatkan penanganan segera, supaya penyakit tersebut tidak berkembang menjadi lebih parah.

Anda harus ingat, “Mencegah lebih baik daripada mengobati”, Jadi jangan pernah menganggap sepele dengan penyakit. Penanganan dini akan sangat membantu penanganan dan pengobatannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *