Sering Disalahgunakan, Pengkonsumsian ‘Ganja’ Menjadi Kontroversial di Beberapa Negara

Jika dilihat sekilas, banyak yang sering mengatakan kalau daun ganja sangat mirip dengan daun ubi yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, khususnya di masyarakat Indonesia. Namun meskipun bentuk keduanya mirip, tapi fungsi atau pemanfaatannya sangatlah berbeda.

Ganja pada umumnya identik dengan hal-hal yang memiliki unsur negatif. Padahal sebenarnya ganja sendiri memiliki banyak khasiat dan manfaat, asalkan dipergunakan atau dikonsumsi dalam dosis yang wajar atau tidak berlebihan.

Kita semua tahu kalau segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak akan memberikan hasil yang baik. Sayangnya, tidak semua orang menyadari hal tersebut.

Ganja Dikenal Sebagai Jenis Narkotika

Di beberapa negara, tumbuhan ini tergolong ke dalam salah satu jenis narkotika, walaupun tidak terbukti bahwa pemakainya selalu menyebabkan seseorang menjadi kecanduan.

Meskipun masuk ke dalam jenis obatan terlarang, namun ganja berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik (unsur kimia) atau semi sintetik (berbahan serat seperti kain) dan terbukti dapat merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia.

Di antara pengguna ganja, beragam efek yang dapat dihasilkan biasanya berupa euforia (rasa gembira) yang berlebihan, serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir.

Berdasarkan penelitian terakhir yang dilakukan, pengkonsumsian ganja juga dapat menimbulkan atau menyebabkan terjadinya lonjakan kreativitas, tapi tetap hal itu tergantung pada jenis ganja yang digunakan.

Salah satu jenis ganja yang dianggap membantu kreativitas adalah hasil persilangan moderen dari “Cannabis indica” yang berasal dari India dengan “Cannabis sativa” dari Barat. Jenis ganja silangan inilah yang sekarang banyak tumbuh di Indonesia.

Menurut “National Institures of Health”, orang-orang sudah mengenal dan menggunakan ganja sejak dulu, jauh sebelum sekarang ini. Dulunya mereka menggunakannya untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Hal tersebut setidaknya sudah berlangsung selama kurun waktu kurang lebih sejak 3.000 tahun yang lalu.

Namun, menurut “Food and Drug Adminitration” mereka malah menganggap ganja sebagai sesuatu yang tidak aman dan efektif dalam bentuk perawatan medis apapun.

Ketegangan pendapat ini terjadi karena kepercayaan luas dari masyarakat yang menganggap ganja sebagai pengobatan yang sangat efektif untuk berbagai jenis penyakit.

Namun karena kurangnya pengetahuan ilmiah tentang pengaruh yang akan terjadi akibat penyalahgunaannya, membuat ganja sendiri menjadi perdebatan antara kedua belah pihak, apakah harus dilegalkah atau tidak.

Sekarang ini ada sekitar dua puluh sembilan negara bagian, yang kemudian ditambah dengan “District of Columbia”, yang diketahui telah memanfaatkan ganja yang tersedia untuk keperluan medis dan beberapa negara bagian lainnya juga memanfaatkan bahan ini sekedar untuk memberi kesenangan yang sifatnya hanya untuk sementara.

Sebuah studi yang dilakukan baru-baru ini dan telah diterbitkan di dalam jurnal Addiction menemukan bahwa gangguan dari ganja kini meningkat tajam di seluruh Amerika Serikat.

Akan tetapi kenaikan atau peningkatan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan legalisasi dari negara-negara yang ikut dalam parsitipasi yang telah disebutkan di atas. Kenaikan dari penggunaan ganja ini telah mengundang banyak perhatian dari seluruh masyarakat yang ada di sana.

Pada kesempatan kali ini, kami akan memberitahukan kepada anda apakah manfaat dari ganja ini terhadap resiko kesehatan yang terkait dalam upaya untuk menjawab pertanyaan sederhana ini, apakah ganja itu baik atau buruk?

Pro dan Kontra Penggunaan Ganja Dalam Bidang Medis

 

Selama bertahun-tahun, berbagai penelitian telah menemukan hasil yang menunjukkan bahwa ganja sebenarnya memiliki beberapa manfaat untuk mengobati beberapa kondisi kesehatan tertentu.

Seperti dilansir dari Business Insider, ganja ternyata memiliki sejumlah manfaat lainnya bagi kesehatan, yang mungkin jarang diketahui banyak orang termasuk anda, mungkin.

Kita tahu bahwa mengkonsumsi ganja dalam jumlah yang berlebihan dan menggunakannya bukan untuk keperluan medis akan menyebabkan masalah kesehatan bagi diri kita sendiri, mulai dari kurangnya kualitas sperma, menimbulka kecemasan yang berlebihan, tekanan darah rendah dan masih banyak lagi efek negatif yang lainnya.

Namun, di balik banyaknya efek negatif yang mungkin ditimbulkan, ternyata tidak sedikit sisi positif atau manfaat yang bisa diberikan bagi kesehatan, seperti beberapa diantaranya bisa dilihat pada jenis-jenis pengobatan berikut ini:

  • Mengobati Penyakit Kronis

Sakit Kronis adalah jenis penyakit yang berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan, yang dapat berlangsung selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun lamanya.

Tahun lalu, sebuah tinjauan besar dari National Academies of Sciences, Engineering and Medicine menilai bahwa lebih dari 10.000 studi ilmiah telah menyebutkan manfaat ganja untuk medis dan juga efek buruk dari ganja ini.

Sebuah laporan mengatakan bahwa penggunaan ganja dalam dunia medis dapat mengobati sakit kronis. Sakit kronis merupakan penyebab utama dari kecacatan, yang mempengaruhi lebih dari 25 juta orang dewasa di Amerika Serikat.

Kajian tersebut menemukan bahwa ganja, atau produk yang mengandung Cannabinoids yang merupakan bahan aktif dalam ganja atau senyawa lainnya yang bekerja pada reseptor yang sama di otak dinilai efektif untuk menghilangkan sakit kronis.

  • Mengobati Pengaruh Alkohol dan Kecanduan Narkoba

Tinjauan komprehensif lainnya mengenai bukti dari ganja ini diterbitkan tahun lalu di dalam jurnal Clinical Psychology Review, mengungkapkan bahwa penggunaan ganja dapat membantu orang yang ketergantungan alkohol atau Opioid. Ini sangat berguna untuk melawan kecanduan mereka.

Meskipun temuan ini banyak dimanfaatkan dalam dunia medis, namun keberadaannya tetap saja masih dianggap kontroversial. Laporan National Academis of Sciences menunjukkan bahwa penggunaan ganja malah semakin berpotensi mendorong peningkatan resiko penyalahgunaan dan keterhgantungan terhadap zat tersebut.

Selain itu, semakin sering seseorang mengkonsumsi ganja, maka akan semakin besar pula kemungkinan mereka untuk terkena masalah atau efek negatif dari ganja tersebut.

Individu yang mulai menggunakan obat di usia muda juga diketahui dapat berisiko tinggi untuk mendapatkan masalah dengan penggunaan ganja tersebut.

  • Mengatasi Depresi, Gangguan Stres Pasca Trauma Dan Kecemasan Sosial

Laporan yang telah dipublikasikan oleh Clinical Psychology menilai bahwa semua literatur terbitan yang meneliti penggunaan ganja mendapati zat ini dapat mengobati gejala penyakit jiwa.

Namun ada pula beberapa pengamat yang mengatakan kalau belum ada bukti sampai saat ini yang menunjukkan bahwa ganja dapat membantu mengobati beberapa orang dengan kondisi kesehatan mental.

Dengan kata lain, mereka mengingatkan bahwa ganja bukanlah perawatan yang tepat untuk beberapa kondisi kesehatan mental lainnya, seperti misalnya gangguan Bipolar dan Psikosis.

Meskipun banyak yang mengindikasikan bahwa ada berbagai bukti yang menunjukkan bahwa ganja dapat mengurangi gejala kecemasan sosial, namun sekali lagi, ini bertentangan dengan tinjauan yang dilakukan oleh National Academies of Sciences, Engineering and Medicine, yang justru menemukan bahwa pengguna ganja sebenarnya dapa meningkat risiko kecemasan sosial tersebut.

Tentu saja, hal ini hanya berlaku dengan penggunaan ganja dalam dosis yang tepat. Penggunaan ganja dalam dosis tinggi justru bisa memberikan efek yang sebaliknya, yaitu seperti meningkatkan kecemasan dan pikiran paranoid.

  • Memperlambat Sel Kanker

Bukti lainnya menunjukkan bahwa Cannabinoid Oral cukup efektif untuk melawan mual dan muntah yang disebabkan oleh kemoterapi dan beberapa penelitian kecil menemukan bahwa asap yang dihasilkan dari ganja juga dapat membantu meringankan gejala ini.

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa Cannabinoids yang terkandung di dalam ganja juga dapat memperlambat pertumbuhan atau bahkan membunuh beberapa jenis kanker tertentu.

Namun, penelitian awal yang menguji hipotesis ini pada manusia mengungkapkan bahwa meskipun Cannabinoids adalah bahan pengobatan yang aman, namun obat ini tidak begitu efektif untuk mengendalikan atau menyembuhkan kanker.

  • Epilepsi

Studi lain yang diterbitkan pada tahun 2017 menemukan bahwa senyawa di dalam ganja yang disebut Cannabidiol mungkin efektif untuk mengurangi kejang pada anak-anak dengan “Sindrom Dravet”, yang merupakan bentuk dari penyakit Epilepsi yang langka.

Kejang yang dihasilkan dari sindrom Dravet yang berkepanjangan dan terjadi secara berulang-ulang dapat berpotensi menyebabkan kematian. Sebenarnya, 1 dari 5 anak dengan sindrom Dravet ini diprediksi tidak akan bisa hidup mencapai usia 20 tahun.

Dalam penelitian tersebut, sebanyak 120 anak dan remaja dengan sindrom Dravet, yang semuanya berusia antara 2 sampai 18 tahun, secara acak diberi larutan Cannabidiol Oral atau Plasebo selama kurun waktu 14 minggu, yang dilakukan bersamaan dengan pengobatan mereka yang biasa.

Setelah melakukan observasi, para peneliti menemukan bahwa anak-anak yang tidak menerima larutan Cannabidiol akan mengalami peningkatan kejang-kejang sebanyak 12 kali setiap bulannya, dengan rata-rata 6 serangan per bulan. Sedangkan tiga anak lainnya yang menerima Cannabidiol sama sekali tidak mengalami kejang-kejang.

Sedangkan anak-anak yang menerima Plasebo diketahui mengalami penurunan kejang, dari yang sebelumnya jumlah rata-rata mereka per bulannya adalah sekitar 15 persen turun menjadi 14 persen saja.

Para periset mengatakan bahwa, sebanyak 39 persen pengurangan kejadian kejang ini menjadi bukti kuat bahwa senyawa dari ganja tersebut dapat membantu orang yang hidup dengan sindrom Dravet. Hal ini dibuktikan dari kertas kerja peneliti yang memuat data ilmiah yang akurat mengenai penyakit ini.

Namun, penelitian tersebut juga menemukan tingkat efek samping yang tinggi terkait dengan Cannabidiol ini. Di dalam penelitian yang dilakukan tersebut, sebanyak 9 dari 10 anak yang diobati dengan Cannabidiol mengalami efek samping seperti sering muntah, kelelahan dan demam.

Apa Saja Resiko Yang Bisa Timbul Dari Pengkonsumsian Ganja?

Kalau dipikir-pikir dan setelah membaca penjelasan di atas tadi, tampaknya tak ada cara aman dan alasan yang kuat untuk mengkonsumsi tanaman ini. Bagaimanapun caranya, efek yang bisa ditimbulkan dari mengkonsumsi ganja akan tetap sama, yaitu dapat merusak tubuh.

Perbedaan cara penggunaannya bisa dibilang hanyalah mempengaruhi seberapa cepat atau seberapa lambat bahan-bahan dalam tumbuhan ini merusak tubuh anda.

Salah satu bahan aktif yang terdapat di dalam tumbuhan ini adalah THC atau Tetrahydrocannabinol. Senyawa ini bisa membuat seseorang merasa melayang.

Bersama dengan kandungan lainnya, efek ganja juga dianggap membawa banyak pengaruh negatif untuk tubuh. Berikut ini beberapa efek buruk ganja yang bisa merusak tubuh jika anda mengkonsumsinya, baik dalam jumlah yang sedikit atau banyak.

  • Masalah Kesehatan Mental

Seperti yang sudah dijelaskan sedikit di atas sebelumnya, penggunaan ganja dalam kurun wakyu yang berkepanjangan diyakini dapat memperburuk gejala gangguan Bipolar pada orang-orang yang diketahui memiliki masalah kesehatan mental jenis ini.

Namun, berdasarkan laporan National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara orang-orang yang tidak memiliki riwayat kondisi jiwa ini, hanya ada sedikit bukti saja yang adanya kaitannya antara penggunaan ganja dengan gangguan Bipolar.

Bukti lain juga menunjukkan bahwa pengguna ganja biasanya lebih cenderung mengalami depresi dan memiliki pemikiran untuk melakukan tindakan bunuh diri dan ada sedikit peningkatan resiko depresi yang lainnya yang jauh lebih beresiko lagi pada pengguna ganja.

Selain itu, penyalahgunaan ganja juga cenderung dapat meningkatkan risiko Psikosis, termasuk Skizofrenia yang merupakan gangguan mental kronis, yang bisa menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau dan perubahan perilaku.

Tapi ada pula temuan aneh yang mencoba untuk mengamati para penderita Skizofrenia dan Psikosis lainnya, yang mengatakan bahwa riwayat penggunaan ganja kerap dikaitkan dengan peningkatan kinerja pada tes yang menilai pembelajaran dan ingatan.

  • Bisa Memunculkan Kanker Testis

Meskipun tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan ganja dengan peningkatan resiko pada sebagian besar kanker, namun National Academies of Sciences menemukan beberapa bukti yang menunjukkan adanya peningkatan resiko Seminoma yang tumbuh dengan lambat, yang akhirnya berkembang menjadi kanker testis.

  • Penyakit pernapasan

Karna pemakaian ganja kebanyakan dilakukan dengan cara dihisap seperti sedang merokok, diketahui bahwasannya menghisap ganja secara terus-menerus seperti itu dapat menyebabkan terjadinya peningkatan resiko batuk kronis, namun “tidak jelas” apakah menghisap ganja juga dapat memperburuk fungsi dari organ paru-paru atau meningkatkan risiko penyakit paru obstruktif kronik atau asma.

Sebuah studi tahun 2014 yang mengeksplorasi hubungan antara penggunaan ganja dan penyakit paru-paru menunjukkan bahwa masuk akal jika banyak yang mengatakan kalau mengisap ganja dapat berkontribusi pada kanker paru-paru, meskipun sulit untuk menghubungkan keduanya secara signifikan.

Akan tetapi ada seorang penulis dari penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Opinion in Pulmonary Medicine itu mengatakan bahwa, “Ada bukti tegas yang mengatakan bahwa menghisap ganja merupakan kebiasaan yang tidak berbahaya. Memperhatikan jumlah pengkonsumsiannya secara umum merupakan tindakan yang bijaksana.”

“Penggunaan ganja secara medis kemungkinan tidak berbahaya bagi paru-paru dalam dosis kumulatif rendah, namun batas dosisnya perlu ditentukan. Penggunaan ganja untuk kesenangan tidak sama dengan penggunaannya sebagai obat-obatan”, katanya.

Lantas, Baik Atau Burukkah Sebenarnya Ganja Itu?

 

Baik buruknya sesuatu itu bergantung pada sudut pandang masing-masing orang. Kita tidak bisa memaksakan pendapat kiita kepada orang lain, bukan?

Sama halnya seperti pro dan kontra yang terjadi pada manfaat dan dampak negatif dari penggunaan ganja yang telah kita bahas di atas tadi.

Beberapa orang berpendapat bahwa mengkonsumsi ganja bisa menyebabkan berbagai masalah pada kesehatan tubuh seseorang. Namun ada pula yang berpendapat lain. Mereka mengatakan kalau ganja memiliki manfaat yang besar bagi bidang medis.

Sekalipun sudah ditemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahaya dan manfaat kesehatan dari ganja ini, namun terlepas dari kemunculan tinjauan ilmiah yang sangat komprehensif dan terkini, yang muncul beberapa tahun terakhir mengenai penilaian ilmiah dan manfaat obat-obatan terlarang, jelaslah bahwa masih diperlukan lebih banyak penelitian lagi untuk mengetahui implikasi kesehatan masyarakat .

Banyak ilmuwan dan badan kesehatan termasuk American Cancer Society (ACS) yang mendukung kebutuhan akan penelitian ilmiah lebih lanjut tentang penggunaan ganja dan Cannabinoids untuk mengobati kondisi medis ini.

Namun, ternyata terdapat hambatan untuk hal ini. Ganja digolongkan sebagai zat yang sulit dikendalikan oleh Drug Enforcement Administration, yang mencegah studi tentang ganja dan Cannabinoids melalui penerapan kondisi ketat pada para peneliti yang bekerja di area tertentu.

Jika anda kebetulan hidup di sebuah lingkungan dimana penggunaan ganja pada bidang medis bersifat legal, anda perlu memperhatikan atau mempertimbangkan efek yang bisa ditimbulkan dengan hati-hati dan bagaimana kaitannya dengan riwayat penyakit dan kesehatan anda sebelum menggunakan obat ini.

Meskipun beberapa bukti telah mendukung penggunaan ganja karena dinilai dapat menghilangkan rasa sakit, namun anda tetap harus menghindarinya jika anda memiliki riwayat masalah kesehatan mental

Sementara ada beberapa bukti untuk mendukung penggunaan ganja YANG DAPAT menghilangkan rasa sakit, anda pasti harus menghindari ganja jika Anda memiliki riwayat masalah kesehatan mental. Ingatlah untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum mengkonsumsiny.

Kesimpulan

Banyak tersebar di Indonesia, ganja memang tidak pernah terlepas dari hal-hal yang mengandung unsur negatif. Padahal, beberapa peneilitian percaya bahwa ganja  sebenarnya memiliki banyak khasiat dan manfaat, terutama dalam bidang medis, asal digunakan dalam kadar atau dosis yang wajar serta tidak berlebihan.

Di beberapa negara, tumbuhan ini digolongkan ke dalam jenis narkotika walaupun belum jelas atau terbukti bahwa pemakainya bisa menyebabkan seseorang menjadi kecanduan.

Beberapa orang juga yakin kalau ganja berbeda dengan obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau semi sintetik yang dapat merusak sel-sel otak.

Namun meskipun menjanjikan manfaat yang baik untuk kesehatan, riset mengenai efek ganja yang positif masih perlu dilakukan lebih dalam dan menyeluruh, sehingga didapatkan hasil yang lebih akurat.

Karena membutuhkan waktu untuk melakukannya, banyak pihak yang sampai dengan saat ini lebih memilih untuk mengharamkan ganja karena efek buruknya sudah terbukti sejak lama.

So, dari penjelasan di atas, sekarang ada sudah tahukan bagaimana pandangan orang-orang mengenai ganja ini? Kalau menurut anda sendiri bagaimana?

Setujukah anda jika dikatakan kalau ganja ini sebenarnya memiliki manfaat atau dampak positif yang besar dalam bidang medis? Atau mungkinkah anda salah satu dari grup kontra yang berpandangan kalau ganja adalah sesuatu yang buruk?

Apapun yang ada di pikiran anda dan apa pun pandangan anda mengenai penggunaan ganja ini, anda harus tahu kalau pada dasarnya pengkonsumsian ganja yang melalui prosedur yang tepat dan dalam dosis yang sesuai, bisa memberikan manfaat yang optimal, serta mencegah efek buruk yang bisa diberikan oleh ganja itu sendiri.

Jadi, jangan sampai anda salah menilai tanaman ganja ini. Sebenarnya bukan tanamannya yang salah atau yang tidak baik, tapi watak dari orang yang memanfaatkannya dengan cara yang tidak benar. Setidaknya setelah membaca artikel ini anda bisa berpikir lebih bijaksana dan bisa memberikan pandangan yang lebih beralasan terhadap segala sesuatu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *