Donor Darah Sudah Biasa, Kini Saatnya Anda Mengenal Apa Itu Tranfusi Plasma

Jika anda masih ingat pelajaran Biologi yang membahas tentang darah khususnya jenis-jenis sel darah, anda tentu masih ingat pastinya dalam pembahasan tersebut akan terselip sedikit penjelasan tentang plasma darah. Coba anda ingat-ingat lagi sebentar. Gimana? Sudah ingat kan? Anda yang menyukai pelajaran Biologi pasti ingat dengan pembahasan ini.

Plasma sendiri merupakan bagian cairan darah, yang mengandung protein vital dan antibodi untuk pembekuan darah dan kekebalan tubuh. Cairan ini adalah sumber penting dalam perawatan kesehatan. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganggapnya sebagai sesuatu (obat) yang sangat penting dalam pengobatan beberapa penyakit.

Perbedaan Plasma dan Darah

Sebenarnya, plasma dan darah merupakan cairan yang berbeda. Namun jika anda menanyakan mana yang jauh lebih penting untuk kehidupan manusia, maka jawabannya keduanya sama penting.

Kekuranga darah bisa menyebabkan seseorang mengalami beberapa jenis penyakit, yang salah satunya adalah anemia. Begitu pula dengan plasma. Seseorang yang kekurangan plasma juga akan mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan antibodi.

Ada beberapa hal yang membedakan darah dengan plasma. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Darah adalah cairan utama tubuh yang bertanggung jawab untuk mengangkut atau mengedarkan nutrisi penting seperti mineral, oksigen, karbondioksida dan membuang limbah dari dalam sel-sel tubuh. Sedangkan plasma adalah zat atau substansi yang tertinggal di dalam darah setelah sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit dilepaskan. Ini merupakan bagian dari darah dan memiliki sekitar 55 persen dari total volume darah di dalam tubuh. Plasma terdiri dari 90 persen air.
  • Darah terdiri dari plasma, sel darah merah, sel darah putih, trombosit dan lain sebagainya. Sedangkan plasma terdiri dari air, protein, nutrisi, pembeku darah, antigen, hormon, karbon dioksida dan sebagainya.
  • Darah biasanya akan berubah menjadi padat atau bergumpal saat atau setelah terjadi cedera. Untuk plasma, cairan ini akan berubah menjadi serum setelah terjadi pembekuan. Serum adalah cairan bening yang terbentuk setelah darah digumpalkan.
  • Sel darah merah, sel darah putih dan trombosit yang terdapat di dalam darah berperan penting dalam sirkulasi darah. Sedangkan plasma hanya memiliki sifat kimiawi dan tidak ada peran penting pada sel.
  • Darah umumnya berwarna merah, sedangkan plasma berwarna kuning.
  • Darah bertanggung jawab atas suplai nutrisi penting, seperti: asam amino, glukosa dan lain-lain ke sel-sel tubuh. Sedangkan plasma bertanggung jawab untuk melawan penyakit, pembekuan darah setelah cedera dan sebagainya.
  • Sumbangan atau donasi darah lebih umum (sering) dilakukan dibandingkan dengan donor plasma. Namun meskipun demikian bukan berarti tidak mungkin untuk melakukan donor plasma.

Dari pembahasan di atas, sangat jelas bahwa darah adalah cairan tubuh dan plasma hanyalah komponen yang ada di dalam darah. Baik darah maupun plasma, keduanya sangat penting bagi seseorang untuk menjalani kehidupan yang sehat. Menyumbang darah dan plasma dianggap sebagai tindakan mulia di masyarakat.

Karena pembahasan mengenai tranfusi darah sudah menjadi hal yang biasa. Kami akan mencoba untuk memberikan informasi yang tidak biasa, yang juga masih ada kaitannya dengan kegiatan pendonoran. Kali ini yang akan dibahas adalah donor plasma.

Pertama-tama anda harus tahu kalau transfusi plasma dapat menyelamatkan nyawa seseorang yang membutuhkannya dan merupakan permintaan donor yang terbilang cukup tinggi, terutama dalam terapi penyembuhan sejumlah penyakit kronis. Salah satu jenis terapi dengan menggunakan plasma darah dikenal dengan istilah Plasmapheresis.

Plasmapheresis adalah jenis terapi medis yang menyuling plasma darah keluar dari kumpulan partikelnya untuk diolah lebih lanjut dan memasukkan kembali plasma darah tersebut pada akhir terapi.

Kegunaan Plasma Dalam Terapi

Dengan banyaknya fungsi dari plasma darah ini, maka ini merupakan komponen yang apabila mengalami masalah bisa menimbulkan gangguan kesehatan serius. Untungnya, plasma darah dapat didonorkan kepada pasien yang membutuhkan.

Meskipun ada banyak komponen penyusunnya seperti air, garam, dan enzim, albumin, imunoglobulin (antibodi) dan faktor pembekuan, jika Anda mendonorkan darah, ahli medis dapat memisahkan komponen-komponen penting ini dari plasma darah dan mengolah komponen tersebut.

Plasma darah dapat dipisahkan di dalam sebuah tuba berisi darah segar yang telah dibubuhi zat anti-koagulan, yang kemudian diputar sentrifugal sampai sel darah merah jatuh ke dasar tuba, sel darah putih akan berada di atasnya dan membentuk lapisan buffy coat, sedangkan plasma darah berada di atas lapisan tersebut dengan kepadatan sekitar 1025 kg/m3 atau 1.025 kg/l.

Protein dan antibodi yang terkandung di dalam plasma juga dapat digunakan untuk menciptakan terapi untuk mengobati sejumlah kondisi kronis yang langka, seperti kelainan autoimun dan hemofilia.

Penyakit autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang mengalami gangguan sehingga menyerang jaringan tubuh itu sendiri. Padahal seharusnya sistem imun hanya menyerang organisme atau zat-zat asing yang membahayakan tubuh.

Dari segi bahasa, auto artinya diri sendiri dan imun artinya sistem pertahanan tubuh, jadi pengertian autoimun adalah sistem pertahanan tubuh yang mengalami gangguan sehingga menyerang sel-sel tubuh itu sendiri.

Sistem kekebalan tubuh sendiri adalah kumpulan sel-sel khusus dan zat kimia yang berfungsi melawan agen penyebab infeksi seperti bakteri dan virus serta membersihkan sel-sel tubuh yang menyimpang (non-self) misalnya pada kanker.

Beberapa contoh penyakit autoimun adalah rematik, lupus, psoriasis, penyakit radang usus, diabetes mellitus tipe 1, sklerosis ganda dan sebagainya. Sedangkan Hemofilia adalah suatu penyakit yang menyebabkan gangguan pendarahan karena kekurangan faktor pembekuan darah. Akibatnya, perdarahan berlangsung lebih lama saat tubuh mengalami luka.

Dalam keadaan normal, protein yang menjadi faktor pembeku darah membentuk jaring penahan di sekitar platelet (sel darah), sehingga dapat membekukan darah dan pada akhirnya menghentikan perdarahan. Pada penderita hemofilia, kekurangan protein yang menjadi faktor pembeku darah tersebut mengakibatkan pendarahan yang terjadi secara berkepanjangan.

Orang yang menderita kondisi ini bisa hidup lama dan produktif dengan menjalani terapi. Dan karena alasan itulah beberapa organisasi kesehatan menyebut plasma darah sebagai “pemberi kehidupan.”

Salah satu cara untuk bisa membantu mereka adalah dengan melakukan donor plasma. Menyumbangkan plasma bisa dibilang relatif aman untuk dilakukan. Hanya saja ada sebagian orang mungkin akan mengalami efek samping tertentu.

Itulah sebabnya mengapa sangat penting bagi seseorang untuk terlebih dahulu memastikan dan memahami efek samping serta bagaimana cara untuk menghindari resiko sebelum memutuskan untuk menjadi pendonor.

Kemungkinan Efek Samping Dari Donor Plasma

Anda mungkin bertanya-tanya kan apa itu donor plasma? Dalam konteks singkatnya, donor plasma saja seperti yang biasa anda lakukan saat mendonorkan darah ke PMI.

Menyumbangkan plasma darah biasanya dapat menyebabkan beberapa gejala umum seperti lemas atau lemah, pingsan dan menyebabkan rasa sakit atau tidak nyaman di daerah jarum suntik dimasukkan (disuntikkan).

Beberapa orang bahkan mengalami efek samping segera setelah mereka menyumbangkan plasma mereka. Efek ini harusnya sih bersifat sementara atau hanya terjadi selama proses donasi atau paling tidak beberapa hari.

Untuk lebih jelasnya, adapun gejala-gejala umum yang bisa timbul dengan cepat tersebut antara lain:

  • Merasa lemas atau pusing : Beberapa orang mungkin akan merasa pusing karena kehilangan cairan dan tekanan sementara pada sistem kardiovaskular, yang mengedarkan darah ke seluruh tubuh.
  • Memar dan nyeri : Pembengkakan, perubahan warna, atau nyeri bisa terjadi akibat jarum yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah di lengan.

Selain dapat menyebabkan sejumlah gejala umum, donor plasma juga bisa menciptakan efek samping yang kurang umum atau tidak biasa, seperti:

  • Reaksi sitrat : Sitrat adalah zat yang ditambahkan ke dalam darah, selama pemberian plasma dilakukan, dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penggumpalan. Jika donor bereaksi terhadap zat ini, mereka mungkin akan mengalami perasaan seperti kesemutan di jari-jari atau sekitar hidung dan mulut mereka atau bisa juga menyebabkan hilangnya rasa untuk sesaat. Reaksi sitrat yang parah bahkan dapat menyebabkan si pendonor menggigil, denyut nadi cepat atau lambat, otot berkedut, atau sesak napas. Jika tidak diobati dengan segera, ini bisa menyebabkan kejang, syok, atau serangan jantung.
  • Reaksi alergi : Mendesinfeksi lengan sebelum memasukkan jarum dapat menyebabkan kemerahan atau iritasi pada kulit jika seseorang memiliki alergi terhadap desinfektan, seperti yodium.

Resiko Yang Mungkin Ditimbulkan

Selain efek samping, ada pula resiko yang mungkin akan terjadi terkait dengam penggunaan jarum untuk menarik darah saat proses pendonoran dilakukan. Inilah salah satu alasan mengapa penting untuk melakukan kegiatan tranfusi di pusat sumbangan terdaftar yang memiliki staff yang berpengalaman dan standar kebersihan yang baik.

Adapun beberapa resiko yang terkait dengan tranfusi plasma adalah meliputi:

  • Tertusuknya Arteri : Pada dasarnya plasma diambil dari pembuluh darah, atau tepatnya pada salah satu pembuluh darah yang lebih kecil di dalam tubuh. Di dalam tubuh ada yang namanya pembuluh arteri yang memiliki aliran darah yang lebih cepat. Jika arteri ditusuk, seseorang cenderung mengalami rasa sakit dan memar yang lebih besar.
  • Cedera dan iritasi saraf : Saat jarum disisipkan atau ditarik, bisa saja menusuk saraf yang dapat menyebabkan rasa sakit yang tajam atau tak tertahankan.
  • Infeksi atau pembengkakan : Ini bisa terjadi jika bakteri masuk ke dalam tubuh dari tusukan jarum. Tanda dan gejala infeksi bisa meliputi rasa sakit pada daerah tertentu (terutama daerah suntikan), pembengkakan, atau perasaan hangat atau panas di sekitar daerah yang terkena suntikan.

Penelitian mengenai efek samping jangka panjang dari proses penyumbangan plasma ini pun suda ada. Sitrat yang ditambahkan ke dalam darah saat melakukan tranfusi tersebut diketahui akan mengikat kalsium.

The Plasma Protein Therapeutics Association telah menerbitkan penelitian yang melihat kekhawatiran bahwa menyumbangkan plasma dapat mempengaruhi kepadatan tulang. Resiko kerusakan vena bisa diminimalkan jika jarum yang digunakan dalam kondisi yang higienis.

Bukan hanya menimbulkan resiko bagi si pendonor, ada juga kemungkinan kecil efek samping bagi orang yang menerima transfusi plasma tersebut. Resiko ini meliputi kenaikan suhu, gatal atau ruam dan dalam kasus ekstrim bisa menyebabkan anafilaksis (alergi berat yang bisa menyebabkan kematian).

Efek samping yang kurang umum namun lebih parah bagi penerima adalah luka di paru-paru atau menyebabkan tekanan pada sistem kardiovaskular. Sebuah studi tentang resiko transfusi plasma yang dipublikasikan di jurnal Transfusion menunjukkan bahwa sebagian besar efek samping ini tidak mematikan dan bisa ditangani dengan benar di pusat kesehatan.

Proses Pengambilan Plasma

 

Donasi plasma biasanya akan membutuhkan waktu yang lebih lama dari donor darah, yang biasanya berlangsung sekitar 10 sampai 20 menit. Sumbangan plasma bisa memakan waktu yang jauh lebih lama, yaitu sekitar 1 sampai 2 jam.

Jika itu adalah kunjungan pertama anda, maka anda akan membutuhkan waktu yang lebih lama lagi, karena anda harus mengisi pendaftaran terlebih dahulu, baru setelah itu bisa melakukan pendonoran.

Para pendonor biasanya akan ditanya tentang riwayat kesehatan dan medis mereka dan menjalani beberapa pemeriksaan fisik dasar untuk memeriksa tekanan darah, suhu dan kesehatan umum mereka sebelum plasma mereka diambil.

Saat proses transfusi darah dimulai, lengan donor akan dibersihkan terlebih dahulu sebelum jarum steril disuntikkan. Saat atau selama pengambilan darah dilakukan, biasanya para pendonor akan diminta untuk duduk di kursi besandar atau sofa.

Pertama-tama, staf yang akan melakukan pengambilan plasma akan melakukan prosedur standar, dimana plasma dikumpulkan dan dipisahkan dari komponen darah lainnya, yang dikenal sebagai plasmapheresis.

Selama prosesnya, seluruh darah diambil dari pembuluh darah, kemudian plasma dikumpulkan dan sisa darah kemudian dikembalikan ke donor. Jadi, yang diambil itu plasmanya, yaitu cairan yang diketahui berwarna kuning jernih.

Prosedur dan peralatan yang digunakan pun harus lah yang sudah disetujui oleh United States Food and Drug Administration (FDA). Hal ini dilakukan untuk memastikan proses donor bisa berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan bahaya bagi si pendonor dan resipiennya.

Setelah donasi selesai, perban bisa diaplikasikan pada daerah suntikan. Selesai melakukan tranfusi, si pendonor harus diberi makanan ringan, minuman dan tempat untuk beristirahat selama 10 sampai 15 menit sampai mereka pulih kembali seperti semula.

Orang dewasa yang sehat biasanya akan mengganti plasmanya dengan cepat setelah didonorkan, sehingga kadar plasma tubuh normal kembali beberapa hari setelah melakukan sumbangan.

Mencegah dan Mengurangi Efek Samping

Jika anda tidak ingin mengalami sejumlah efek samping pada saat mendonorkan plasma anda, maka sangat penting bagi anda untuk untuk mempersiapkan tubuh anda dan memastikannya dalam keadaan yang benar-benar fit, serta memberikan perawatan khusus setelahnya.

Mengikuti langkah sederhana yang ada di bawah ini dapat membantu mengurangi resiko atau kemungkinan terkena efek samping tersebut.

  • Hidrasi : Karena plasma kira-kira mengandung sekitar 92 persen air, pendonor akan kehilangan cairan selama proses berlangsung. Sebagai persiapan, anda harus minum banyak cairan non-alkohol (air mineral) pada hari sumbangan plasma berlansung.
  • Makan sesuatu : Pastikan kalau anda sudah makan. Orang yang hendak mendonor seharusnya tidak menyumbang dengan keadaan perut kosong. Mengkonsumsi makanan kecil atau makanan ringan terlebih dahulu akan membuat kemungkinan anda menjadi lemas dan pusing menjadi lebih kecil.
  • Reaksi sitrat : Jika seseorang mengalami kehilangan rasa atau reaksi lainnya selama proses donor darah berlangsung, maka mereka harus membiarkan petugas kesehatan merawat mereka. Mereka harus bisa menghentikan proses sementara agar tubuh bisa menyesuaikan diri dengan kadar sitrat yang masuk ke dalam tubuh mereka.
  • Hidrasi ulang : Pusat sumbangan harus menawarkan tempat duduk dan sesuatu untuk dimakan dan diminum, dengan tujuan untuk membantu pemulihan segera setelah pendonor melakukan sumbangan plasma. Sangat penting untuk mengganti cairan yang hilang setelah disumbangkan.
  • Merasa tenang atau tidak perlu khawatir : Mengalami dehidrasi setelah memberi plasma merupakan hal yang wajar terjadi pada setiap pendonor. Tapi anda tidak perlu terlalu khawatir dengan hal itu, karena tubuh mereka secara otomatis akan bekerja untuk mengganti cairan yang telah disumbangkan tersebut. Anda harus menghindari kerja kasar atau  berat atau melakukan olahraga selama satu atau dua hari.
  • Jangan sering-sering melakukan tranfusi : Setelah selesai mendonasikan plasma, anda akan membutuhkan waktu untuk memulihkan kembali tubuh anda seperti semula. Istirahat yang cukup dan mengkonsumsi makanan yang sehat adalah beberapa cara yang bisa anda lakukan. Tidak ada yang bisa memastikan potensi efek samping jangka panjang dari donasi plasma ini. Tapi paling baik bagi seseorang untuk menunggu minimal 28 hari setelah donor pertama untuk kembali melakukannya lagi.

Hal-hal penting di atas akan sangat membantu anda yang tidak ingin terkena efek samping tranfusi plasma. Selain yang telah disebutkan di atas tadi, anda juga harus mendonor atau menyumbang menyumbangkan plasma anda di pusat yang diakui untuk memastikan standar perawatan profesional dan kebersihan yang baik.

Sebagian orang dapat menemukan pusat terakreditasi terdekat di tempat tinggal mereka dengan menggunakan pencarian online yang disediakan oleh agen akreditasi, AABB, yang sebelumnya dikenal sebagai American Association of Blood Banks, jika anda tinggal di Amerika.

Tapi jika anda berada di Indonesia, anda bisa melakukannya di Unit Donor Darah PMI yang anda di kota-kota anda. Transfusi plasma yang anda lakukan bisa menyelamatkan banyak nyawa.

Plasma anda sangat penting dan dibutuhkan oleh orang-orang dengan masalah medis, seperti luka trauma atau kanker, sehingga menyumbangkan plasma dapat mengubah kehidupan seseorang. Jika anda masih memiliki hati dan nilai kemanusiaan, maka anda tidak akan keberatan untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan.

Jadi untuk anda yang punya kondisi tubuh yang fit dan baik, jangan undur waktu anda untuk menolong orang lain. Kita tidak pernah tahu kapan kita berada di posisi mereka. Oleh karena itu, selagi bisa kita bantu, mari kita bantu dengan segera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *